Senin, 16 November 2015
Blognya Marifatullah: KITAB LAYANG MUSLIMIN MUSLIMAN JILID-1
Blognya Marifatullah: KITAB LAYANG MUSLIMIN MUSLIMAN JILID-1: PAGUNEMAN PAPAHAMAN ELMU AGAMA
Senin, 18 November 2013
HAKIKAT JATI DIRI MANUSIA: JAUHAR AWWAL RASULULLAH
HAKIKAT JATI DIRI MANUSIA: JAUHAR AWWAL RASULULLAH: JAUHAR AWWAL RASULULLAH SIFAT RASA RASULULLAH = SIFAT RASA ALLAH AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Manusia itu rahasi...
JAUHAR AWWAL RASULULLAH

JAUHAR AWWAL RASULULLAH
SIFAT RASA RASULULLAH = SIFAT RASA ALLAH
AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU
Manusia itu rahasia-Ku dan Aku-lah rahasianya.
SIFAT RASA RASULULLAH = SIFAT RASA ALLAH
AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU
Manusia itu rahasia-Ku dan Aku-lah rahasianya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:
" Ya Allah…
" Ya Allah…
Engkaulah YANG MAHA DHAAHIR sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH TINGGI daripada-MU
Engkaulah YANG MAHA BAATHIN sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DEKAT daripada-MU
Engkaulah YANG MAHA AWWAL sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DAHULU daripada-Mu
Dan Engkaulah YANG MAHA AKHIR sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH LAMA daripada-Mu "
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Allah berkehendak [untuk menciptakan] sesuatu, maka [cukuplah] Allah hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia” [Al-Baqarah:117]
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, Ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. [Ath-Thalaaq:12]
"Allah [Pemberi] cahaya [kepada] langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca [dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, [yaitu] pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis] Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [An-Nuur:35]
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak [pula] di atasnya [lagi] awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, [dan] barangsiapa yang tiada diberi cahaya [petunjuk] oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun " [An-Nuur:40]
"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah [tempat-tempat] bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan [waktu]. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya] kepada orang-orang yang mengetahui" [Yunus:5]
Engkaulah YANG MAHA BAATHIN sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DEKAT daripada-MU
Engkaulah YANG MAHA AWWAL sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DAHULU daripada-Mu
Dan Engkaulah YANG MAHA AKHIR sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH LAMA daripada-Mu "
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, Ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. [Ath-Thalaaq:12]
"Allah [Pemberi] cahaya [kepada] langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca [dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, [yaitu] pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis] Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [An-Nuur:35]
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak [pula] di atasnya [lagi] awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, [dan] barangsiapa yang tiada diberi cahaya [petunjuk] oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun " [An-Nuur:40]
"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah [tempat-tempat] bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan [waktu]. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya] kepada orang-orang yang mengetahui" [Yunus:5]
DZAT adalah Nurrullah, SIFAT Laisa kamishlihi syaiun yaitu Jauhar Awwal Rasulullah bibitnya tujuh lapis bumi, tujuh lapis langit berikut segala isinya.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH adalah ;
RUH ILMU RASULULLAH [Hakikat Muhammad]
Cahayanya empat ;
MERAH-KUNING-PUTIH-HITAM.
Ke empat cahaya itu disebut ;
NUR ILMU RASULULLAH [Nur Muhammad]
RUH ILMU RASULULLAH [Hakikat Muhammad]
Cahayanya empat ;
MERAH-KUNING-PUTIH-HITAM.
Ke empat cahaya itu disebut ;
NUR ILMU RASULULLAH [Nur Muhammad]
Jauhar Awwal adalah Ruh Ilmu Rasulullah
Jauhar Latif adalah cahaya halus di jagat Shagir
Jauhar Firid adalah cahaya matahari di jagat Kabir
JAGAT SHAGIR – JAGAT KABIR
Jagat ada
dua rupa, yaitu Jagat Shagir dan Jagat Kabir, Jagat Shagir adalah wujud
manusia, Kabir yaitu Alam Dhohir, keadaannya begitu, tidak ada beda
sudah tentu sama. di Alam Dunia, isinya sudah pasti, ada siang dan
malam, di diri manusia juga bukti, ada tidur dan melek, melek
perbandingannya siang, tidur perbandingannya malam.
7
hari di diri manusia adalah, nyatanya ada dua lubang hidung, dua mata,
dua telinga, dan yang ke tujuh adalah mulut, lima yang terlihat, isinya
yang tujuh :
1. Pendengaran / Telinga
2. Penglihatan / Mata
3. Perkataan / Mulut
4. Penciuman / Hidung
5. Rasa
Bulan
ada dua belas, di Alam Dhohir, nyatanya di diri manusia sendi tangan
(sendi bahu, sendi sikut dan sendi pergelangan tangan) yang dua di
jumlah ada 6 tambah dengan kaki juga 6 jadi 12
Satu
bulan 30 hari, di dalam diri, nyatanya sendi pergelangan tangan dan
sendi yang lembut di jari ada 30, di dua tangan dan jari kaki. Sama saja
30, nyatanya ada siang dan malam, tangan bagian siang, kaki bagian
malam, jadi dalam sebulan, ada 30 hari. Siangnya juga begitu 30 hari.
Tahun
semuanya ada delapan sewindu, nyatanya di badan manusia dari sendi bahu
sampai sendi sikut = 1 dan dari sendi sikut sampai pergelangan tangan =
1 di jumlah jadi 2, kiri dan kanan di jumlah jadi 4, ditambah 2 betis 2
paha, jadi 4, total jadi 8, artinya nama sewindu, windu adalah,
berdirinya diri manusia, tidak kurang tidak lebih, anggota badan
manusia, tidak ada kekurangan, nyata semua di diri manusia, keadaan Alam
dunia, sudah kumpul di Jagat Shagir.
Di Alam Dunia, ada Matahari dan Bulan, Bintang-bintang , ada hawa, hawa panas dan hawa dingin. Hawa angin, bumi nyatanya di badan manusia ada empat nafsu manusia. Amarah, Lawamah, Sawiah, Muthmainah, kenyataan di badan.
Matahari dan Bulan nyatanya di diri manusia, adalah adanya hidup, tidak bisa nyata dan dibuktikan di badan manusia, sebab ghaib, ingin nyata harus melalui Tharekat. Untuk menyatakan SIFAT HIDUP TIDAK BISA DILIHAT DENGAN MATA KEPALA, TETAPI HANYA BISA DILIHAT DENGAN MATA BAATHIN YANG BERSIH, mata kepala untuk melihat Jauhar Firid, terangnya dunia oleh Matahari.
Manfaat Bulan, Bintang dan Matahari adalah yang menguatkan Alam Dunia, yang menghidupkan isi bumi, tumbuhan dll Jika tidak ada Matahari, hawa bumi, angin, air, api tidak akan bisa bergerak / jalan, tumbuhan tidak akan jadi, tidak akan ada hasilnya dunia ini, manusia juga mati, tidak akan ada kehidupan, jadi hidupnya Jagat Kabir, karena adanya Bintang, Bulan, Matahari.
Begitu juga di badan manusia yaitu Jagat Shagir. Matahari di wujud manusia adalah Jauhar Latif, cahaya yang halus, tidak bisa terlihat oleh mata kepala, tapi wajib harus ketemu di Dunia, jika tidak ketemu di Dunia, di Akhirat pasti gelap, gelap berarti Neraka pasti jadi pengap, di dunia juga sudah bukti, betah karena adanya terang, pengap karena permasalah dunia, jika cahaya yang langgeng tidak di cari, bagaimana mau ni’mat? Baathin kekal dalam kegelapan, sudah tidak ada tempat untuk bertanya, sudah bukan tempat mencari ilmu, bukan lagi di tempat ibadah, Baathin hanya untuk menerima siksaan atau menerima Rahmat dan Ridho-Nya.
Semua ciptaan-Nya tidak terlepas dari satu cahaya
Perjalanan Alam semesta ini adalah perjalanan
Allah-Muhammad-Adam.
BENDA RASULULLAH CAHAYA EMPAT disebutnya HAKIKAT ADAM, barang ghoib yang disebut ISMUDZAT, bibit alam dhohir atau Asma Yang Maha Suci.
Cahaya yang empat tadi menjadi lafadz ;
ALIF - LAM - LAM - HA [ALLAH] tidak salah lagi, tadinya juga Asma Allah menjadi hakikat ;
MIM AWAL - HA - MIM AKHIR - DAL [MUHAMMAD]
DZAT dan SIFAT adalah pasti, tidak akan ada SIFAT, jika tidak ada DZAT, begitupun sebaliknya.
Syahadatnya DZAT dan SIFAT disebut Syahadat Sejati
ASHHADU ALLA ILAHA ILLALLAH
WA ASHHADU ANNA MUHAMMADUR RASULULLAH
Hakikat : LA ILAHA ILLALLAH
Syariat : MUHAMMADUR RASULULLAH
WA ASHHADU ANNA MUHAMMADUR RASULULLAH
Hakikat : LA ILAHA ILLALLAH
Syariat : MUHAMMADUR RASULULLAH
Bertemunya ASHHADU = Allah dan
WA ASHHADU = Diri Manusia [Ghoib]
menjadi ;
WUJUD SHALAT, RUPA AMAL
"Sukma Suci Raga Sejati" = RUH SUCI
WA ASHHADU = Diri Manusia [Ghoib]
menjadi ;
WUJUD SHALAT, RUPA AMAL
"Sukma Suci Raga Sejati" = RUH SUCI
JAUHAR AWWAL RASULULLAH
menjadi hakikat :
TASJID [Syahadat : PERKATAAN, ITIQOD, PRILAKU]
Suatu bukti bahwa kebenaran Al-Qur’an adalah Shalat dan yang pertama kali diciptakan Allah adalah Nur Shalat.
AF’AL Allah adalah bukti adanya hidup dan kehidupan dunia, ada ciptaan-Nya. Alam Semesta = Dalil, bibitnya dari cahaya yang empat rupa, ke-lima adalah cahaya pasti yaitu;
RUH ILMU RASULULLAH [Jauhar Awwal Rasulullah]
- CAHAYA MERAH = NARUN
menjadi hakikat :
DZAT > ALIF = JABBARULLAH > MIM AWAL
MERAH – unsur API
NAFSU AMARAH berdomisili pada TELINGA.
Simbol hurufnya adalah ALIF, dalam pelaksanaan Shalat adalah berdiri ketika TAKBIRATUL IKHRAM.
- CAHAYA KUNING = HAWAUN
menjadi hakikat :
SIFAT > LAM AWAL = JABBAR QOHAR > HA
KUNING – unsur ANGIN. N [nitrogen]
NAFSU SUFIAH berdomisili pada MATA.
Simbol hurufnya LAM AWAL pada gerakan shalat adalah gerakan RUKU'.
- CAHAYA PUTIH = MAUN
menjadi hakikat :
ASMA > LAM AKHIR = WAHIDUL QOHAR > MIM AKHIR
PUTIH – unsur AIR. H [hydrogen]
NAFSU LAWAMMAH berdomisili pada LIDAH.
Simbol hurufnya LAM AKHIR pada gerakan shalat adalah SUJUD.
- CAHAYA HITAM = TUROBUN
menjadi hakikat :
AF'AL > HA = WAHIDUL WAHID > DAL
HITAM – unsur BUMI. Zat arang atau carbon [C]
NAFSU MUTHMAINAH berdomisili pada HATI.
Simbol hurufnya HA pada gerakan shalat adalah sikap ATTAHIYAT.
MUHAMMAD AF'AL :
MIM AWAL lafadz Muhammad menjadi KEPALA Adam
HA lafadz Muhammad menjadi DADA Adam
MIM AKHIR lafadz Muhammad menjadi PUSAR Adam
DAL lafadz Muhammad menjadi KAKI Adam
HAKIKAT ADAM :
Saripati RUH BUMI menjadi KULIT BULU Adam
Saripati RUH API menjadi DARAH DAGING Adam
Saripati RUH AIR menjadi URAT TULANG Adam
Saripati RUH ANGIN menjadi OTOT SUMSUM Adam
Saripati RUH BUMI menjadi KULIT BULU Adam
Saripati RUH API menjadi DARAH DAGING Adam
Saripati RUH AIR menjadi URAT TULANG Adam
Saripati RUH ANGIN menjadi OTOT SUMSUM Adam
AF'ALULLAH
adalah geraknya diri, Asma Allah yang nyata di badan KULIT,
DAGING, TULANG, SUMSUM, dari empat
menjadikan “senjatanya”:
DZATULLAH adalah SIFAT PERKATAAN, perkataanlah yang menjadikan keramaian Alam Dunia, jika
tidak ada kata, tidak akan ada kemauan manusia, tidak akan ada gedung-gedung,
mobil dll.
SIFATULLAH adalah
SIFAT PENGLIHATAN, yang memberi tahu
kepada segala sifat, yang baik dan buruk, warna-warni, terang dan gelap,
kumpul jadi satu, bergulung di dalam penglihatan.
ASMA'ULLAH adalah SIFAT PENDENGARAN, nyatanya adalah
semua suara kumpul menjadi satu di telinga, semua perkataan, yang di
keluarkan oleh lisan, semuanya adalah Asma, masuk kedalam telinga.
AF'ALULLAH adalah SIFAT PENCIUMAN/NAFAS, nafas yang keluar masuk melalui hidung, nafas yang memangku dan
menguatkan wujud, nafas yang menjadi tiangnya hidup,
adanya hidup wajib
harus dimengerti, nafas yang keluar perginya kemana, jika keluar sampai
dimana tempatnya, jika ke dalam di mana diamnya, tidak akan hilang
tanpa sebab, tentu ada tempatnya yang pasti, Allah Maha Adil, menurut
Ilmu Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma'rifat, itu adalah perjalanan
manusia untuk pulang, pulang kepada asalnya, tempat Ruh waktu di Qadim,
Qudratullahu.
SIFAT
RASA [PENGUASA] dari PERKATAAN, PENGLIHATAN, PENDENGARAN, PENCIUMAN,
termasuk RUH, NYAWA, BAATHIN, HATI, QOLBU, semuanya tidak akan hilang
tanpa sebab, semua ada tempatnya yang pasti yaitu kembali kepada JAUHAR
AWWAL RASULULLAH, inilah yang disebut RASA RASULULLAH atau RASA SEJATI
Hak Allah, Hak Muhammad, Hak Adam
Haknya Allah yaitu Awas
Haknya Muhammad yaitu Yang Mengawasi
Haknya Adam yaitu Yang Diawasi
Dzat Sifat Asma bersatu Allah Muhammad Adam [Akrobu] ada di wujud manusia, yang tiga bergulung jadi satu Hidup, Rasa dan Adegan
Yang tiga bergulung jadi satu, Awas, Yang Mengawasinya, Yang Diawasinya, jika Awas saja, tidak ada Yang Mengawasi pasti luput, begitu juga jika hanya dua yaitu Awas dan Yang Mengawasi, Yang Diawasinya tidak ada.
Hidup adalah kenyataan pasti, kenyataan akan adanya Allah, ada, mustahil tidak ada, Rasa sudah pasti kenyataannya yakin, ciri adanya yang di utus Nabi Muhammad Rasul, Penghulu Rasul semua, Adegan adalah kenyataan Adam Nabi, Khalifah Allah Ta’ala.
Haknya Muhammad yaitu Yang Mengawasi
Haknya Adam yaitu Yang Diawasi
Dzat Sifat Asma bersatu Allah Muhammad Adam [Akrobu] ada di wujud manusia, yang tiga bergulung jadi satu Hidup, Rasa dan Adegan
Yang tiga bergulung jadi satu, Awas, Yang Mengawasinya, Yang Diawasinya, jika Awas saja, tidak ada Yang Mengawasi pasti luput, begitu juga jika hanya dua yaitu Awas dan Yang Mengawasi, Yang Diawasinya tidak ada.
Hidup adalah kenyataan pasti, kenyataan akan adanya Allah, ada, mustahil tidak ada, Rasa sudah pasti kenyataannya yakin, ciri adanya yang di utus Nabi Muhammad Rasul, Penghulu Rasul semua, Adegan adalah kenyataan Adam Nabi, Khalifah Allah Ta’ala.
“Pertama-pertama dijadikan Allah Ta'ala itu *CAHAYAKU [Muhammad], dan pada riwayat
lain, *RUHKU.”[al-Raniri, 1961:
147]
"Aku
[Muhammad] dari Allah dan Alam Semesta dariku;
“Jikalau tiada engkau, ya Muhammad, niscaya tiada Kujadikan segala Alam ini”
[Al-Ghazali, 1934: 115]
*Nûr Muhammad memegang
peranan sentral dijadikannya Alam Semesta ini, sebelum adanya dalam bentuk
seorang Nabi insani. Nûr tersebut Qadim lagi azali. *Nûr Muhammad inilah yang
selalu berpindah dari generasi berikutnya dalam bentuk para anbiya: Nabi Adam
Alaihissalam, Nabi Nuh Alaihisalam, Nabi Ibrahim Alaihissalam, Nabi Musa
Alaihissalam dan lain-lain, kemudian dalam bentuk Nabi penutup, Muhammad Salallahu
‘alaihi wassalam. Nur tersebut berpindah kepada para
awliya dan berakhir pada para wali penutup [khatam awliya] [Al-Ghazali,
1934: 115]
* Nur [RUH Ilmu Rasulullah]
Berkata Wahab bin Munabbih, bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam telah bersabda :
Allah Ta'ala telah berfirman : "Sesungguhnya semua petala langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul Dzat-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh QALBU [hati] seorang Mukmin." [Hadits Riwayat Ahmad]
Allah Ta'ala telah berfirman : "Sesungguhnya semua petala langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul Dzat-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh QALBU [hati] seorang Mukmin." [Hadits Riwayat Ahmad]
Allah [977] tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat" [Al-Hajj:8]
Rabu, 09 Oktober 2013
Terjemahan Lirik Lagu Barat - Song Lyric Translation: A Thousand Years | Christina Perri
Terjemahan Lirik Lagu Barat - Song Lyric Translation: A Thousand Years | Christina Perri: Heart beats fast Jantungku berdebar kencang Colors and prom-misses Warna-warni dan janji-janji How to be brave Bagaimana agar berani How ...
Kamis, 22 Agustus 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
Hujjah Aswaja: Berbakti Pada Almarhum
Hujjah Aswaja: Berbakti Pada Almarhum: Masih Adakah kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua Yang Sudah Wafat? Berbakti kepada orang tua (Birul walidain) adalah sebuah perintah ...
Selasa, 23 April 2013
RasaDzaati: Hirup
RasaDzaati: Hirup: Naon atuh ari HIRUP ? Kasebutkeun yen hirup teh EUSI Kanyataan yen HIRUP EUSI sakabeh RUANG jeung WAKTU HIRUP ngeusi kana sakabeh KAHIRUPAN...
Senin, 14 Januari 2013
KETUHANAN: TUJUH LATIFAH SIMPUL BATHIN DAN 7 TITIK BATHIN YAN...
KETUHANAN: TUJUH LATIFAH SIMPUL BATHIN DAN 7 TITIK BATHIN YAN...: أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله TUJUH LATIFAH SIMPUL BATHIN DAN 7 TITIK BATHIN YANG KITA SEBUT DENGAN LATHIFAH ...
Rabu, 31 Oktober 2012
Minggu, 30 September 2012
muhasabah...
Bahan Renungan bagi Hati Nurani dan Tafakkur Diri
Posted in Mengaji Diri...Tentang Hati Nurani at 7:07 pm by
kuswandani
Berikut ini
saya kutip langsung sebuah nasihat agung dari sang Waliyullah, Ibnu Athaillah
al-Iskandari, yang mengajak kita semua untuk merenungi dan mentafakkuri
keindahan anugerah Allah bernama qalb atau hati bagi seorang Mukmin:
“Hati ibarat
sebuah pohon, bila disiram dengan air ketaatan buahnya akan tampak jelas. Mata
akan membuah kan penjagaan. Telinga akan membuahkan perhatian terhadap Alquran
dan pengetahuan. Lidah akan membuahkan zikir dan ucapan yang baik. Kedua tangan
dan kaki akan membuahkan amal-amal kebajikan, taat, serta sikap mau membantu
orang. Sementara bila hati kering, buahnya akan rontok dan manfaatnya akan
hilang.
Oleh karena
itu, kalau hati sudah kering, perbanyaklah berzikir. Kunjungilah majelis
orang-orang yang wara` dan bijak. Jangan seperti orang sakit yang berkata,
“Saya tak mau berobat. Nanti juga akan sembuh sendiri. Pasti lama kelamaan
sakitnya juga akan hilang.” Orang seperti ini harus dinasihati dengan
mengatakan, “Engkau baru bisa sembuh kalau mau berobat. Tak ada jaminan
penyakitnya akan hilang sebelum berusaha mencari sebab.”
Perjuangan
memang tidak manis. Ia disertai oleh ujung-ujung panah dan pertumpahan darah.
Berjuanglah melawan hawa nafsu agar ia mau taat. Itulah yang disebut dengan
jihad terbesar.
Hati ibarat
cermin, sedangkan hawa nafsu seperti asap atau uap. Setiap kali asap itu
menempel di cermin, cermin itu pun akan menghitam sehingga kejernihan dan
keindahannya akan pudar. Hati yang lemah tak ubahnya seperti cermin milik orang
tua renta yang sudah tak punya perhatian untuk membersihkannya. Ia abaikan
cermin itu dan tak pernah lagi ia pakai hingga wajahnya pun tak karuan.
Sebaliknya,
hati yang mengenal Allah seperti cermin milik pengantin wanita yang cantik.
Setiap hari ia bersihkan cermin tersebut dan ia pakai sehingga tetap bening dan
mengkilat.
Rasulullah
Saw bersabda, “Hati manusia lebih bergolak daripada kuali yang sedang mendidih
di atas api.” Betapa banyak orang mukmin yang hatinya kadang menyatu dengan
Allah tetapi sebentar kemudian berpisah. Betapa banyak ahli ibadah yang
menghabiskan malamnya dalam taat kepada Allah, tetapi ketika matahari
menyingsing ia tak ingat lagi pada-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw berdoa,
“Yaa Muqalliba al-quluub wa al-abshaar, tsabbit qalbii ‘alaa diinika wa thaa`atika.”
Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu dan
ketaatan kepada-Mu.
Hati sama seperti mata. Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat. Tetapi lensanya saja. Demikian pula dengan hati. Yang dimaksud adalah bukan dagingnya. Tetapi unsur halus yang Allah hunjamkan dalamnya. Unsur itulah yang bisa memahami. Sengaja Allah tempatkan hati bergantung di sisi bagian kiri seperti ember. Kalau dibebani oleh syahwat, ia akan bergerak dan kalau dibebani oleh lintasan takwa ia juga akan bergerak. Kadangkala lintasan hawa nafsu atau syahwat yang lebih dominan. Pada saat tertentu lintasan hawa nafsu dikalahkan oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu. Tetapi, pada saat yang lain, lintasan takwa dikalahkan lintasan hawa nafsu sehingga hati pun mencelamu. Kedudukan hati seperti atap rumah. Bila engkau menyalakan api di dalam rumah, asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam.
Hati sama seperti mata. Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat. Tetapi lensanya saja. Demikian pula dengan hati. Yang dimaksud adalah bukan dagingnya. Tetapi unsur halus yang Allah hunjamkan dalamnya. Unsur itulah yang bisa memahami. Sengaja Allah tempatkan hati bergantung di sisi bagian kiri seperti ember. Kalau dibebani oleh syahwat, ia akan bergerak dan kalau dibebani oleh lintasan takwa ia juga akan bergerak. Kadangkala lintasan hawa nafsu atau syahwat yang lebih dominan. Pada saat tertentu lintasan hawa nafsu dikalahkan oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu. Tetapi, pada saat yang lain, lintasan takwa dikalahkan lintasan hawa nafsu sehingga hati pun mencelamu. Kedudukan hati seperti atap rumah. Bila engkau menyalakan api di dalam rumah, asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam.
Begitulah
api syahwat, kalau sedang berkobar di dalam tubuh, asap-asap dosanya akan naik
ke hati dan membuat hati tersbut hitam. Sehingga ia menjadi hijab yang
membungkus permukaannya. Jika engkau hendak membersihkan dan membuatnya kembali
bening, serta hendak mengangkat karat yang menempel padanya, engkau harus
melakukan empat hal:
1) Banyak berzikir dan membaca Alquran,
2) Selalu diam dan sedikit bicara,
3) Menyendiri untuk munajat kepada Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui,
4) Sedikit makan dan sedikit minum.
1) Banyak berzikir dan membaca Alquran,
2) Selalu diam dan sedikit bicara,
3) Menyendiri untuk munajat kepada Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui,
4) Sedikit makan dan sedikit minum.
Sebaliknya
ada empat hal yang bisa mematikan hati:
1) Duduk bersama orang kaya,
2) Berbicara dengan wanita,
3) Jarang berzikir,
4) Banyak makan.
1) Duduk bersama orang kaya,
2) Berbicara dengan wanita,
3) Jarang berzikir,
4) Banyak makan.
Bila ingin
membersikah air, engkau harus menjauhkannya dari barang-barang kotor yang bisa
membuatnya najis. Sementara itu anggota badan manusia ibarat saluran air yang
mengalir menuju hati dan menumpahkan airnya di sana.
Oleh karena
itu, janganlah engkau menyiram hatimu dengan perbuatan hina seperti ghibah,
atau membincangkan orang lain, mengadu domba, berkata kotor, mendengar yang
terlarang, melihat kepada yang tidak halal, memakan yang haram, dan sejenisnya.
Hati tidak dikotori oleh yang keluar darinya. Tetapi, ia dikotori oleh yang
masuk ke dalamnya.
Hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca Alquran disertai tadabbur, duduk bersama para ulama dan orang-orang mukmin, menjaga diri dari melihat sesuatu yang mubah, memelihara diri dari yang terlarang dan makruh, serta cemas terhadap segala maksiat.
Hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca Alquran disertai tadabbur, duduk bersama para ulama dan orang-orang mukmin, menjaga diri dari melihat sesuatu yang mubah, memelihara diri dari yang terlarang dan makruh, serta cemas terhadap segala maksiat.
Peliharalah
cahaya hatimu wahai saudaraku. Janganlah engkau membuka tatapan mata kecuali
untuk menambah pengetahuan atau hikmah. Siapa yang ingin melihat kepada
berbagai hati, hendaknya ia melihat berbagai jenis rumah di daerahnya. Ada
rumah yang sudah rusak dan menjadi tempat kotoran sampah. Ada rumah yang rusak
dan menjadi tempat ular dan macan. Ada rumah yang tak bercahaya, gelap gulita.
Ada rumah yang menjadi tempat berkicaunya burung gagak dan burung hantu. Dan
ada pula rumah yang ramai oleh penghuninya, menyebarkan wewangian dan
bunga-bunga, serta disinari oleh kilauan bintang gemintang.
Lalu
perhatikan hatimu, termasuk yang manakah ia sehingga engkau benar-benar
mengetahui. Bila ketika shalat, membaca Alquran, berzikir, dan berkhalwat,
hatimu tidak hadir, tangisilah dirimu! Taburilah kepalamu dengan tanah, serta
berdoalah agar Allah memberi hati yang khusyu’. Ketahuilah bahwa orang yang
hatinya sedang sakit, karena maksiat dan nifak, ia takkan bisa memakai baju
ketakwaan. Bila hatimu terbebas dari segala penyakit hawa nafsu dan syahwat,
berarti engkau telah memperoleh takwa.
Dalam
Alquran, Allah menyebut syahwat sebagi penyakit. Dia berfirman,
“….. maka
orang yang di dalam hatinya ada penyakit pastilah menginginkan…” (QS 33: 32 )
Di lain tempat, Allah juga menyebut sifat nifak sebagai penyakit,
Di lain tempat, Allah juga menyebut sifat nifak sebagai penyakit,
“Di dalam
hati mereka terdapat penyakit, Allah pun menambah penyakit tersebut…” ( QS 2:
10 )
Untuk
mengobati hati yang sakit ada dua cara. Pertama, dengan mempergunakan sesuatu
yang bermanfaat, yaitu ketaatan. Kedua, dengan menghindari sesuatu yang
berbahaya, yaitu maksiat. Tak ubahnya seperti orang yang sedang sakit. Ia akan
meminum obat dan menghindarkan makanan tertentu sampai betul-betul sehat. Bila
engkau melakukan sebuah dosa, lalu kau ikuti ia dengan tobat dan penyesalan,
itu bisa menjadi sebab bagi tersambungnya hubunganmu dengan Allah. Namun, bila
engkau melakukan ketaatan seperti ibadah haji, lalu kau ikuti ia dengan rasa
ujub, bangga dan sombong, itu bisa menjadi sebab terputusnya hubunganmu dengan
Allah.
Sungguh
aneh, bagaimana engkau berdoa kepada Allah agar diberi kalbu yang baik,
sementara anggota badanmu melakukan dosa dan perbuatan terlarang. Jika
demikian, engkau seperti orang yang sedang meminum racun atau orang yang
menelan obat, tetapi ular dibiarkan menyengatnya.
Siapa yang
menyibukkan hatinya dengan Allah, kemudian ia melindunginya dari rongrongan
hawa nafsu dan syahwat, itu lebih baik dari orang yang banyak melakukan shalat
dan puasa, sedang hatinya sakit.
Allah
berfiman,
”Adapun orang-orang uang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka bertambah kufur di samping kekufuran mereka (sebelumnya)” ( QS 9 : 125 )
”Adapun orang-orang uang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka bertambah kufur di samping kekufuran mereka (sebelumnya)” ( QS 9 : 125 )
Orang yang
hatinya sibuk dengan dunia dan diisi kecintaan padanya sama seperti orang yang
membangun rumah bagus dengan kamar kecil di atas yang airnya menetes ke bawah.
Demikian kondisi itu terus berlangsung sehingga bangunan rumah itu dilumuri
oleh kotoran. Begitulah kondisimu di hadapan Allah. Hatimu berlumur maksiat.
Engkau memakan makanan haram, melihat yang haram, dan menyembunyikan keburukan,
tetapi anehnya engkau masih merasa sebagai hamba yang shalih.
Siapa yang
melakukan perbuatan haram dan mengerjakan maksiat, hatinya menjadi gelap dan
mata batinnya menjadi redup. Oleh karena itu, segeralah menyucikan dan
membersihkan hatimu dengan bertobat, berzikir, menyesal, dan memohon ampunan.
Bila engkau belum bertobat di saat sehat, bisa jadi Allah akan mengujimu dengan
penyakit dan musibah agar engkau bisa keluar dari dunia dalam keadaan bersih
dari dosa seperti pakaian yang dicuci dengan air.
Bertobatlah
dan beristighfarlah selalu agar hatimu sibuk dengan zikir hingga engkau
dilumuri cahaya. Jangan sekali-kali berbuat seperti penggali sumur yang mencari
air. Ia menggali di sini dengan dalam sehasta, kemudaian menggali di tempat
lain dengan dalam sehasta pula. Dengan begitu, ia takkan dapat menemukan air.
Mestinya ia menggali di satu titik saja dengan sungguh-sungguh hingga air
ditemukan. Ketahuilah bahwa hati ini menjadi rusak karena kurangnya rasa takut
dan tiadanya rasa khusyu’ terhadap Allah.
Hati yang
hidup adalah hati yang tak pernah terlalaikan dari Allah, entah oleh sesuatu
yang buruk maupun yang baik. Bila ingin mengobati hatimu dari keburukan dan
kelalaian, jauhilah sesuatu yang syubhat, keluarlah menuju padang tobat,
pakailah baju penyesalan, angkat panji kehinaan, tinggalkan tempat tidur,
ubahlah kondisimu dari jauh kepada Allah dengan mendekati-Nya dan dari
permainan dengan kesungguhan, berilah makan fakir miskin, biasakan hatimu untuk
mengasihi dan mencinta, perbanyak menangis, dan teruslah berdoa karena harap
dan cemas, dengan begitu mudah-mudahan engkau sembuh.
Namun
sayangnya, engkau lebih memperhatikan makan, mencari yang ternikmat, mengisi
perut dengannya, serta berbangga dengan yang indah dan gemuk. Engkau tak
ubahnya seperti domba yang sengaja dibuat gemuk untuk disembelih dan dimakan.
Bukankah engkau pun telah menyembelih diri sendiri secara tak sadar?
Cahaya
adalah tunggangan hati. Ia merupakan tentaranya sebagaimana kegelapan merupakan
tentara hawa nafsu. Bila Allah ingin menoling hamba-Nya dalam melawan syahwat,
Dia akan menyokongnya dengan tentara cahaya sekaligus melenyapkan kegelapan
darinya.
Cahaya
bertugas menyingkap, bashiirah (mata hati) memutuskan, serta hati mendatangi
atau menolak. Adapun manusia, aspek lahiriyahnya berkilau, namun aspek batinnya
yang sebenarnya menjadi substansi perhatian. Hawa nafsu hanya melihat pada
aspek lahiriyah, sementara hati melihat pada substansi batiniahnya.
Wahai hamba
Allah, agama merupakan modal hidupmu di dunia. Bila engkau kehilangan modal
tersebut, sibukkan lisanmu dengan menyebut asma-Nya, sibukkan hatimu dengan
mencintai-Nya, dan anggota badanmu dengan mengabdikan diri pada-Nya. Selain
itu, bersikaplah rendah hati, temui para ulama yang mengamalkan ilmunya, sampai
benih datang, turun hujan, dan ia pun tumbuh.
Siapa yang
memperlakukan hatinya seperti petani memperlakukan tanahnya, hatinya akan bersinar
dengan cahaya iman dan hikmah.
………………
Gusti, makin
terpuruk hamba,
makin malu
hamba, sekiranya diri tidak lagi mampu merenungi jutaan hikmah
agung ini…
Minggu, 08 April 2012
Dalil-dalil Wajibnya Memanjangkan Jenggot dan Memotong Kumis
Segala
puji bagi Allah saja, shalawat dan salam tetap tercurah pada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang tidak ada Nabi lagi
setelahnya.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya dan juga selain mereka :
Dari Nafi’ dan Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, yaitu banyakkanlah jenggotmu dan pangkaslah kumismu.”
Diriwayatkan juga oleh keduanya dari Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma : “Pangkaslah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian tumbuh.” Dalam suatu riwayat lain : “Cukurlah kumis kalian dan biarkan tumbuh jenggot kalian.”
﴿ ﺍﻟﻠøöﺤóﻰ ﴾ adalah nama rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu.
Berkata Ibnu Hajar :
﴿ ﻭﻓﺮﻭﺍ ﴾ dengan tasydid di fak-nya : ﴿ ﻭóﻓøöﺮõﻭúﺍ ﴾
Berasal dari ﴿ ﺍﻟﺘøﻮúﻓöﻴúﺮõ ﴾ : Yaitu membiarkan, maksudnya biarkanlah banyak.
Dan ﴿ ﺇöﻋúﻔóﺎﺀõ ﺍﻟﻠøöﺤóﻰ ﴾ : Yaitu biarkanlah sebagaimana adanya.
Adapun perintah untuk menyelisihi orang-orang musyrik sebagaimana dijelaskan oleh hadits dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu :
“Sesungguhnya
orang musyrik itu, mereka membiarkan kumis mereka tumbuh dan mencukur
jenggot mereka. Maka bedakanlah dengan mereka yaitu biarkanlah jenggot
kalian tumbuh dan cukurlah kumis kalian.” (Diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang hasan)
Dari Abu Hurairah juga diriwayatkan oleh Muslim :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bedakanlah
kalian dengan orang-orang Majusi, karena sesungguhnya mereka
(orang-orang Majusi) memendekkan jenggot dan memanjangkan kumisnya.”
Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, dia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyebutkan tentang orang-orang Majusi. Beliau bersabda : “Sesungguhnya mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot maka bedakanlah kalian dengan mereka.” Lalu beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) menampakkan pemotongan kumisnya kepadaku (Ibnu Umar).
Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Termasuk
fitrah Islam, memotong kumis dan membiarkan jenggot tumbuh.
Sesungguhnya orang-orang Majusi membiarkan kumisnya dan mencukur
jenggotnya. Maka bedakanlah dengan mereka, yaitu pangkaslah kumis kalian
dan biarkanlah tumbuh jenggot kalian.”
Di
dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma dari Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sesungguhnya beliau bersabda :
“Kami diperintah untuk memangkas kumis dan membiarkan tumbuh jenggot.”
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Potonglah kumis kalian dan panjangkanlah/biarkanlah jenggot kalian.”
Makna ﴿ ﺟóﺰøõﻭúﺍ ﴾ dan ﴿ ﻗóﺼøõﻮúﺍ ﴾ adalah potonglah.
Dan makna ﴿ ﺃóﺭúﺧõﻮﺍ ﴾ dan ﴿ ﻃóÜﻴøﻠõﻮúﺍ ﴾ adalah panjangkanlah atau diartikan juga, biarkanlah.
Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan lafadh ﴿ pangkaslah = ﻗóﺼøõﻮúﺍ ﴾, maka :
Tidak meniadakan ﴿ mencukur = ﺍúﻹöﺣúﻔóﺎﺀõ ﴾.
Karena sesungguhnya riwayat ﴿ ﺍúﻹöﺣúﻔóﺎﺀõ ﴾ ada di dalam Bukhari-Muslim dan sama maksudnya.
Dalam suatu riwayat : “Biarkanlah/banyakkanlah jenggot kalian.”
Maksudnya : “Biarkanlah jenggot kalian penuh.”
Hukum Memotong, Mencabut, Atau Mencukur Jengot
-Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Diharamkan mencukur jenggot.”
-Berkata Al Qurthubi rahimahullah : “Tidak boleh memotong, mencabut, dan mencukurnya.”
-Abu
Muhammad Ibnu Hazm menceritakan bahwa menurut ijma’, menggunting kumis
dan membiarkan jenggot tumbuh adalah fardlu dengan dalil hadits Ibnu
Umar radliyallahu ‘anhu :
“Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot kalian tumbuh.”
-Dan dengan hadits Zaid bin Arqam secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) :
“Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” (Dishahihkan oleh At Tirmidzi)
-Dengan
dalil yang lain, Tirmidzi berkata di dalam Al Furu’ : “Bentuk kalimat
ini menurut shahabat kami (yang sepakat dengan Tirmidzi) menunjukkan
keharaman.” Dan berkata pula dalam Al Iqna’ : “Haram mencukur jenggot.”
-Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Barangsiapa membikin seperti rambut maka tidak ada baginya di sisi Allah bagian.”
Berkata Zamakhsyari : “Maknanya
membikin rambut seperti yang asli (rambut palsu, ed.), yaitu dengan
mencabutnya atau mencukurnya dari kedua pipi atau merubahnya dengan
menghitamkan.”
Berkata pula Zamakhsyari dalam An Nihayah : Yaitu mencukurnya dari kedua pipi dan dikatakan mencabutnya atau merubahnya dengan hitam.
Larangan Dan Bahaya Menyerupai Orang Kafir
Imam
Ahmad telah meriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu, dia
berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Biarkanlah jenggot kalian tumbuh dan cukurlah kumis kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashara.”
-Al Bazzar telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma secara marfu’ : “Janganlah kalian menyerupai orang-orang Ajam, biarkanlah tumbuh jenggot kalian.”
-Abu
Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu dia berkata : Telah
bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”
-Dan
riwayat Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya dari
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam bersabda : “Bukanlah termasuk golongan kami barangsiapa yang
menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi
dan nashara.”
-Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Maka bedakanlah diri dengan mereka (yahudi dan nashara)! Adalah perintah yang dikehendaki oleh pembuat syariat (Allah).”
Penyerupaan
pada dhahir akan berpengaruh/menimbulkan kasih, cinta, dan kesetiaan
dalam batin sebagaimana kecintaan dalam batin akan
berpengaruh/menimbulkan penyerupaan dalam dhahir dan ini adalah masalah
yang nyata, baik secara perasaan atau dalam praktik nyata.
Penyerupaan
dengan mereka pada perkara yang tidak disyariatkan bisa jadi sampai
pada pengharaman atau termasuk dosa dari dosa-dosa besar (Al Kabair) dan
terjadinya kekafiran sesuai dengan dalil syar’iyyah.
Sungguh
Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ telah menunjukkan perintah untuk
menyelisihi orang-orang kafir dan melarang menyerupai mereka secara
keseluruhan.
Suatu
perkara yang diduga sebagai tempat terjadinya kerusakan yang
terselubung (dimana hal tersebut) tidak ditegaskan (oleh syar’i) berarti
ketetapan hukumnya dikaitkan pada perkara di atas dan dalil tentang
pengharamannya telah mengena (tidak terlepas) dari masalah tersebut.
Maka menyerupai mereka dalam bentuk dhahir merupakan penyebab
penyerupaan dalam akhlak, perbuatan-perbuatan yang tercela, bahkan
sampai pada i’tiqad (keyakinan). Sedang pengaruh dari yang demikian itu
tidak ditegaskan (oleh syar’i). Dan kerusakan itu sendiri –yang
dihasilkan dari sikap penyerupaan– terkadang hal tersebut tidak nampak
dan terkadang sulit (untuk dihindari) atau tidak mudah untuk
dihilangkan. Maka segala sesuatu yang menyebabkan pada kerusakan
(fasaad), pembuat syariat (Allah ‘Azza wa Jalla) mengharamkannya.
Dan diriwayatkan oleh Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu :
“Barangsiapa yang menyerupai mereka sampai meninggal (mati) dia akan dibangkitkan bersama mereka.”
Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bukanlah
termasuk golongan kami barangsiapa yang menyerupai selain kami,
janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashrani.
Sesungguhnya cara salamnya orang-orang yahudi dengan isyarat jari-jemari
dan cara salamnya orang-orang nashrani dengan telapak tangan.”
Ada tambahan dari sisi Thabrani :
“Janganlah
kalian mencukur jambul (rambut yang tumbuh di kepala bagian depan),
pangkaslah kumis kalian, dan biarkanlah jenggot kalian tumbuh.”
Umar
radliyallahu ‘anhu memberi syarat (tanda) atas orang-orang kafir
dzimmah supaya mencukur rambut yang tumbuh di kepala bagian depan untuk
membedakan mereka dengan orang-orang Muslim. Maka barangsiapa
mengerjakan yang demikian itu, sungguh telah menyerupai mereka.
Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan :
“Sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang dari Al Qazu’, yaitu
mencukur rambut di kepala sebagian dan meninggalkannya sebagian.”
Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu :
“Tentang (mencukur rambut) kepala, cukurlah keseluruhan atau tinggalkanlah.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)
Mencukur
rambut pada bagian belakang dari kepala (tengkuk) tidak boleh bagi
orang yang tidak mencukur rambutnya keseluruhan dan tidak ada suatu
kepentingan dengan mencukurnya itu. Karena yang demikian itu termasuk
perbuatan orang-orang majusi. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum
maka dia termasuk golongan mereka.
Telah meriwayatkan Ibnu ‘Assakir dari Umar radliyallahu ‘anhu :
“Mencukur rambut pada bagian belakang kepala (tengkuk) bukan karena berbekam adalah perbuatan majusi.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencegah untuk mengikuti hawa nafsu mereka. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat
dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan
kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Dan
sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu
kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang
yang dhalim.” (QS. Al Baqarah : 145)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Mengikuti
mereka pada perkara yang mereka khususkan dari agama mereka. Dan
mengikuti agama mereka berarti mengikuti hawa nasfu mereka.”
-Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan bahwasanya salah
seorang dari majusi datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam, dia sungguh telah mencukur jenggotnya dan memanjangkan kumisnya.
Maka bertanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada orang
tersebut, apa yang menyebabkan berbuat demikian, dia menjawab : “Ini
agama kami.” Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (adalah
jenggot beliau penuh dari sini sampai sini dan menunjuk tangannya pada
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) : “Akan tetapi pada agama
kami, yaitu memangkas kumis dan membiarkan jenggot tumbuh.”
-Harits bin Abi Usamah telah mengeluarkan dari Yahya bin Katsir, dia berkata : Telah
datang seorang laki-laki ‘ajam ke masjid dan sungguh dia telah
memanjangkan kumisnya dan menggunting jenggotnya. Maka bersabda
(bertanya) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada orang tersebut :
“Apa yang membawa kamu (menyuruh kamu) atas ini?” Maka orang tersebut
menjawab : “Sesungguhnya rab (raja) saya yang memerintah saya dengan
ini.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan agar memanjangkan jenggot dan memangkas kumis saya.”
-Ibnu Jarir meriwayatkan dari Zaid bin Habib kisahnya dua utusan kisra (kaisar), berkata Zaid bin Habib : Telah
masuk dua utusan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dan sungguh keduanya telah mencukur jenggot dan memelihara
kumisnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memandang dengan
benci kepada keduanya dan bersabda : “Celakalah kalian berdua. Siapakah
yang menyuruh kalian dengan ini.” Kedua orang tersebut menjawab : “Yang
memerintahkan kami adalah rab kami (yaitu kaisar).” aka bersabdalah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Akan tetapi Rabbku
memerintahkan untuk memelihara jenggotku dan memotong kumisku.”
Muslim meriwayatkan dari Jarir radliyallahu ‘anhu, ia berkata :
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam banyak rambut jenggotnya.”
Diriwayatkan
oleh Tirmidzi dari Umar radliyallahu ‘anhu : “(Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam) itu tebal jenggotnya.” Dan dalam suatu riwayat : “Banyak jenggotnya.” Dan dalam riwayat lain : “Lebat jenggotnya.”
Dari
Anas radliyallahu ‘anhu : “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam, jenggotnya penuh dari sini sampai sini –menunjuk dengan
tangannya pada lebarnya–.”
Sebagian
ahli ilmu membolehkan (memberikan keringanan) dalam masalah mengambil
(memotong) jenggot yang lebih dari genggaman dengan dasar yang dilakukan
oleh Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu . Namun kebanyakan ulama membencinya
(mengambil yang lebih dari genggaman). Dan ini sudah jelas dengan
(keterangan) yang terdahulu.
Berkata Imam Nawawi rahimahullah : “Yang terpilih yaitu membiarkan atas keadaannya, yakni tidak memendekkan sesuatu dari jenggot secara asal.”
Al Khatib telah mengeluarkan dari Abi Said radliyallahu ‘anhu bahwa : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Janganlah salah satu di antara kalian memotong dari panjang jenggotnya.”
Dalam kitab Ad Darul Mukhtar disebutkan : “Adapun
memotong dari jenggot itu bukan menggenggam sebagaimana yang dilakukan
oleh orang-orang Maghrib dan para banci dari kaum laki-laki, maka tidak
seorang pun yang membolehkannya.”
Pada Diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Ada Suri Tauladan Yang Baik
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)
Hai
orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan
janganlah kamu berpaling daripada-Nya sedang kamu mendengar
(perintah-perintah-Nya). Dan janganlah kamu menjadi orang-orang
(munafik) yang berkata : “Kami mendengarkan.” Padahal mereka tidak
mendengarkan.” (QS. Al Anfal : 20-21)
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An Nur : 63)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Dan
barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin. Kami biarkan ia
leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan
dia ke dalam jahanam dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)
Allah ‘Azza wa Jalla memperindah para laki-laki dengan jenggot. Dan diriwayatkan termasuk tasbihnya para Malaikat :
“Maha Suci (Allah) yang telah menghiasi orang laki-laki dengan jenggot.”
Dikatakan di dalam At Tamhid :
“Haram mencukur jenggot, tidaklah ada yang berbuat demikian (mencukur jenggot) kecuali banci dari (kalangan) laki-laki.”
Imam Nawawi rahimahullah dan yang lain berkata :
• Jenggot adalah perhiasan laki-laki dan merupakan kesempurnaan ciptaan.
•
Dengan jenggot, Allah membedakan antara laki-laki dan perempuan dan
termasuk tanda-tanda kesempurnaan, maka mencabut pada awal tumbuhnya
adalah menyerupai anak laki-laki yang belum tumbuh jenggotnya dan
merupakan kemungkaran yang besar.
•
Demikian juga mencukur, menggunting, atau menghilangkan dengan obat
penghilang rambut termasuk kemungkaran yang paling jelas dan kemaksiatan
yang tampak nyata, menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam serta terjerumus kepada perkara yang Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam melarangnya.
Telah
berkata dan bersaksi bahwa seorang laki-laki yang mencabut rambut di
bawah bibirnya di sisi Umar bin Abdul Aziz maka beliau menolak
persaksiannya. Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu dan Ibnu Abi Layla
(seorang qadli di Madinah) menolak persaksian semua orang yang mencabut
jenggotnya. Berkata Abu Syamah : “Sungguh telah terjadi pada suatu kaum
yang mereka itu mencukur jenggotnya dan kejadian ini lebih parah dari
apa-apa yang terdapat pada Majusi (yang mereka itu memendekkan jenggot
dan memanjangkan kumisnya) disebabkan mereka mencukur jenggotnya.”
Ini
pada jaman Abu Syamah rahimahullah, bagaimana seandainya jika beliau
melihat masa sekarang (dimana) lebih banyak orang yang melakukannya.
Apa yang menimpa mereka? Dilaknati Allah-lah mereka. Maka bagaimana mereka berpaling?
Allah
‘Azza wa Jalla memerintahkan mereka mencontoh Rasul-Nya sementara
mereka menyelisihinya dan mereka bermaksiat kepadanya. Mereka mencontoh
orang-orang Majusi dan orang-orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla
memerintahkan mereka agar taat kepada Rasul-Nya dan sungguh telah
bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Peliharalah jenggot.”
Sementara
mereka bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan
mereka bermaksud dengan sengaja mencukur jenggotnya.
Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk mencukur kumis,
mereka memanjangkannya, mereka melakukan yang sebaliknya. Mereka
bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara terang-terangan dengan
melakukan apa yang tidak tepat pada tempatnya.
Dan yang Allah ‘Azza wa Jalla memperindah dengannya adalah paling mulia dan indahnya sesuatu dari manusia.
“Maka
apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap pekerjaannya yang
buruk itu baik (sama dengan orang yang tidak ditipu syaithan)? Maka
sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki
siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Faathir : 8)
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari butanya hati, kotornya dosa-dosa, kehinaan dunia, dan siksa akhirat.
“Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah
orang-orang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau
kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka tentulah Allah
menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka
dapat mendengar niscaya mereka pasti berpaling juga sedang mereka
memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (QS. Al Anfal : 22-23)
Dan dalam hal ini cukuplah bagi orang yang mempunyai hati dan mendengarkan serta dia dalam keadaan menyaksikan.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
“Barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk dan
barangsiapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang
pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi : 17)
(Dikutip
dari terjemah tulisan Abdurrahman Ibn Muhammad ibn Qoshim Al ‘Ashimi,
edisi Indonesia Biarkan Jenggot Anda Tumbuh, penerbit Cahaya Tauhid
Press, Malang)
Dikutip dari salafy.or.id offline Penulis : Abdurrahman Ibn Muhammad ibn Qoshim Al ‘Ashimi Judul: Barkan Jenggot Anda Tumbuh
** Janganlah Mengolok-olok Sunnah
Mengolok-olok
atau menjadikan Sunnah Nabi sebagai bahan tertawaan merupakan perbuatan
dosa besar, bahkan bisa menyebabkan pelakunya kafir.
Istihza’
(mengolok-olok) Sunnah Nabi berarti mengolok-olok Islam. Ini adalah
perbuatan besar namun dinilai oleh sebagian orang sebagai suatu hal yang
biasa. Bahkan terkadang disebut lelucon yang menggelikan karena
dianggap perbuatan tersebut adalah main-main dan tidak serius sehingga
seolah-olah ketika melakukannya tidak menanggung dosa atau tanggung
jawab apa pun. Padahal perbuatan itu dinilai oleh syariat sangat
berbahaya dalam segala keadaannya.
Terjadi
di zaman Nabi ketika beliau bersama kaum muslimin pergi menuju perang
Tabuk maka dalam sebuah majlis seseorang berkata: “Kami tidak melihat
ada yang lebih rakus, lebih dusta, dan penakut seperti para pembaca
Qur’an kita itu (dia maksudkan para sahabat Nabi).” Maka seseorang
menanggapinya: “Kamu dusta, bahkan kamu adalah munafik. Saya benar-benar
akan sampaikan kepada Rasulullah.” Maka berita itu sampai kepada
Rasulullah dan turunlah ayat Al Qur’an kepada beliau. Abdullah bin Umar
mengatakan: “Saya melihat orang itu bergantung dengan tali unta
Rasulullah dan kakinya tersandung-sandung batu sambil mengatakan: “Wahai
Rasulullah kami hanya main-main.” Namun Rasulullah terus mengatakan:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya kalian memperolok-olok?
Jangan kalian cari udzur, kalian telah kafir setelah iman kalian”
(At Taubah: 65-66) [Hasan, HR Ibnu Abi Hatim dan Ath Thabari dan
dihasankan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam Shahihul Musnad min Asbabin
Nuzul, 108]
Mengomentari
masalah ini Asy Syaikh Sulaiman bin Abdillah mengatakan: “Para ulama
telah bersepakat atas kafirnya orang yang melakukan sesuatu darinya,
maka barangsiapa yang mengolok-olok Allah atau kitab-Nya, atau
Rasul-Nya, atau agama-Nya, maka dia telah kafir walaupun main-main dan
tidak memaksudkan mengolok-oloknya secara ijma’ (kesepakatan para
ulama).” (Taisir Al ‘Azizil Hamid hal. 617)
Hal yang serupa ditegaskan oleh Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di katanya: “Barangsiapa
yang mengolok-olok sesuatu dari kitab Allah atau Sunnah Rasul-Nya yang
shahih atau melecehkannya atau merendahkannya maka dia telah kafir
terhadap Allah Yang Maha Besar.” (Taisir Al Karimir Rahman, 343)
Bahkan
Asy Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “Barangsiapa yang mengolok-olok
salah satu dari Sunnah berarti ia mengolok-olok semuanya, karena yang
terjadi pada orang tersebut (pada kisah di atas-red) bahwa mereka
mengolok-olok Rasul dan para sahabatnya sehingga turunlah ayat ini.
Kalau begitu mengolok-olok perkara ini saling terkait.” (Kitabut Tauhid,
39)
Lalu bagaimana kalau mengolok-olok ilmu dan orang yang berilmu apakah termasuk dalam hukum ini?
Asy
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjelaskan masalah ini, katanya: “Yang
benar dalam masalah ini adalah dirinci masalahnya. Kalau mengolok-olok
ilmu syariat atau orang yang berilmu karena ilmunya maka yang demikian
merupakan kemurtadan, tidak ada keraguan dalam masalah itu karena itu
adalah perbuatan merendahkan dan meremehkan sesuatu yang Allah besarkan
dan mengandung penghinaan dan pendustaan terhadapnya. Adapun
mengolok-olok orang yang berilmu dari sisi lain seperti pakaian atau
ambisinya terhadap dunia atau kebiasaannya yang tidak sesuai dengan
kebiasaan manusia yang tidak ada hubungannya dengan syariat atau sebab
yang serupa dengan itu maka yang semacam ini tidak sampai murtad karena
perbuatannya ini tidak kembali kepada agama tapi kembali kepada perkara
lain.” (footnote Asy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz terhadap Fathul Majid
hal. 526)
Semestinya
ketika melihat sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan dan sesuai
dengan Sunnah Nabi jangan sampai kita mengolok-olok atau menghina,
merendahkan, mengejek atau menjadikannya bahan tertawaan atau
semacamnya. Walaupun Sunnah itu bertentangan dengan adat istiadat atau
kita menganggapnya asing dan aneh serta belum bisa melakukannya.
Mestinya kita mendukung dan meminta ampun kepada Allah karena belum bisa
melaksanakannya, bukan malah mengejek.
Semoga Allah selalu memberikan taufik-Nya kepada kita untuk selalu melakukan apa yang Ia ridhai dan cintai.
Ukuran Hidayah
Karena
begitu bahayanya mencela Sunnah Nabi maka para ulama menjadikan ukuran
hidayah dengan istiqamahnya seseorang di atas As Sunnah. Sebaliknya
mereka menilai seseorang yang mencela Sunnah Nabi berarti perlu
diragukan keistiqamahannya di atas hidayah.
Al Imam Al Barbahari mengatakan: “Jika
kamu dengar seseorang mencacat As Sunnah atau menolak As Sunnah atau
mencari selain As Sunnah, maka tuduhlah dia pada keislamannya dan jangan
kamu ragu bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu, ahli bid’ah.” (Syarhus Sunnah, 51, Ta’dhimus Sunah, 29)
Abul Qasim Al Ashbahani mengatakan: “Ahlus Sunnah dari kalangan Salaf mengatakan bahwa jika seseorang mencacat As Sunnah maka semestinya ia dituduh pada keislamannya.” (Al Hujjah fii Bayanil Mahajjah, 2/428, Ta’dhimus Sunnah hal. 29).
Ayyub As Sikhtiyani berkata: “Jika
kamu ajak bicara seseorang dengan Sunnah lalu dia mengatakan:
‘Tinggalkan kami dari yang ini dan beri tahu kami dengan Al Qur’an’,
maka ketahuilah bahwa dia itu sesat.” (Miftahul Jannah, 137)
Orang
yang melakukan perbuatan semacam ini berada dalam keadaan yang sangat
berbahaya sehingga Imam Ahmad mengatakan: “Barangsiapa yang menolak
hadits Nabi maka dia berada di atas jurang kebinasaan.” (Tabaqat Al
Hanabilah, 2/15, Ta’dhimus Sunnah, 29). Wallahu a’lam.
Dikutip dari ttp://www.asysyariah.com, Penulis : Al Ustadz Qomar Suaidi, Lc, Judul asli: Hukum mengolok-olok sunnah Nabi
Langganan:
Postingan (Atom)


