Senin, 18 November 2013

HAKIKAT JATI DIRI MANUSIA: JAUHAR AWWAL RASULULLAH

HAKIKAT JATI DIRI MANUSIA: JAUHAR AWWAL RASULULLAH:   JAUHAR AWWAL RASULULLAH  SIFAT RASA RASULULLAH = SIFAT RASA ALLAH AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Manusia itu rahasi...

JAUHAR AWWAL RASULULLAH


 




JAUHAR AWWAL RASULULLAH 

SIFAT RASA RASULULLAH = SIFAT RASA ALLAH

AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU
Manusia itu rahasia-Ku dan Aku-lah rahasianya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:
" Ya Allah… 

Engkaulah YANG MAHA DHAAHIR sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH TINGGI daripada-MU

Engkaulah YANG MAHA BAATHIN sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DEKAT daripada-MU

Engkaulah YANG MAHA AWWAL sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DAHULU daripada-Mu

Dan Engkaulah YANG MAHA AKHIR sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH LAMA daripada-Mu " 




 “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Allah berkehendak [untuk menciptakan] sesuatu, maka [cukuplah] Allah hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia” [Al-Baqarah:117]

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, Ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. [Ath-Thalaaq:12]

"Allah [Pemberi] cahaya [kepada] langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca [dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, [yaitu] pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis] Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [An-Nuur:35]

"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak [pula] di atasnya [lagi] awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, [dan] barangsiapa yang tiada diberi cahaya [petunjuk] oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun " [An-Nuur:40]

"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah [tempat-tempat] bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan [waktu]. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya] kepada orang-orang yang mengetahui" [Yunus:5]

DZAT adalah Nurrullah, SIFAT Laisa kamishlihi syaiun yaitu Jauhar Awwal Rasulullah bibitnya tujuh lapis bumi, tujuh lapis langit berikut segala isinya.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH adalah  ;
RUH ILMU RASULULLAH [Hakikat Muhammad] 
Cahayanya empat ; 
MERAH-KUNING-PUTIH-HITAM.
Ke empat cahaya itu disebut ;
NUR ILMU RASULULLAH  [Nur Muhammad]

Jauhar Awwal adalah Ruh Ilmu Rasulullah
Jauhar Latif adalah cahaya halus di jagat Shagir
Jauhar Firid adalah cahaya matahari di jagat Kabir



JAGAT SHAGIR – JAGAT KABIR
Jagat ada dua rupa, yaitu Jagat Shagir dan Jagat Kabir, Jagat Shagir adalah wujud manusia, Kabir yaitu Alam Dhohir, keadaannya begitu, tidak ada beda sudah tentu sama. di Alam Dunia, isinya sudah pasti, ada siang dan malam, di diri manusia juga bukti, ada tidur dan melek, melek perbandingannya siang, tidur perbandingannya malam.
7 hari di diri manusia adalah, nyatanya ada dua lubang hidung, dua mata, dua telinga, dan yang ke tujuh adalah mulut, lima yang terlihat, isinya yang tujuh :
1. Pendengaran / Telinga
2. Penglihatan / Mata
3. Perkataan / Mulut
4. Penciuman / Hidung
5. Rasa
Bulan ada dua belas, di Alam Dhohir, nyatanya di diri manusia sendi tangan (sendi bahu, sendi sikut dan sendi pergelangan tangan) yang dua di jumlah ada 6 tambah dengan kaki juga 6 jadi 12
Satu bulan 30 hari, di dalam diri, nyatanya sendi pergelangan tangan dan sendi yang lembut di jari ada 30, di dua tangan dan jari kaki. Sama saja 30, nyatanya ada siang dan malam, tangan bagian siang, kaki bagian malam, jadi dalam sebulan, ada 30 hari. Siangnya juga begitu 30 hari.
Tahun semuanya ada delapan sewindu, nyatanya di badan manusia dari sendi bahu sampai sendi sikut = 1 dan dari sendi sikut sampai pergelangan tangan = 1 di jumlah jadi 2, kiri dan kanan di jumlah jadi 4, ditambah 2 betis 2 paha, jadi 4, total jadi 8, artinya nama sewindu, windu adalah, berdirinya diri manusia, tidak kurang tidak lebih, anggota badan manusia, tidak ada kekurangan, nyata semua di diri manusia, keadaan Alam dunia, sudah kumpul di Jagat Shagir.

Di Alam Dunia, ada Matahari dan Bulan, Bintang-bintang , ada hawa, hawa panas dan hawa dingin. Hawa angin, bumi nyatanya di badan manusia ada empat nafsu manusia. Amarah, Lawamah, Sawiah, Muthmainah, kenyataan di badan.

Matahari dan Bulan nyatanya di diri manusia, adalah adanya hidup, tidak bisa nyata dan dibuktikan di badan manusia, sebab ghaib, ingin nyata harus melalui Tharekat. Untuk menyatakan SIFAT HIDUP TIDAK BISA DILIHAT DENGAN MATA KEPALA, TETAPI HANYA BISA DILIHAT DENGAN MATA BAATHIN YANG BERSIH, mata kepala untuk melihat Jauhar Firid, terangnya dunia oleh Matahari.

Manfaat Bulan, Bintang dan Matahari adalah yang menguatkan Alam Dunia, yang menghidupkan isi bumi, tumbuhan dll Jika tidak ada Matahari, hawa bumi, angin, air, api tidak akan bisa bergerak / jalan, tumbuhan tidak akan jadi, tidak akan ada hasilnya dunia ini, manusia juga mati, tidak akan ada kehidupan, jadi hidupnya Jagat Kabir, karena adanya Bintang, Bulan, Matahari.

Begitu juga di badan manusia yaitu Jagat Shagir. Matahari di wujud manusia adalah Jauhar Latif, cahaya yang halus, tidak bisa terlihat oleh mata kepala, tapi wajib harus ketemu di Dunia, jika tidak ketemu di Dunia, di Akhirat pasti gelap, gelap berarti Neraka pasti jadi pengap, di dunia juga sudah bukti, betah karena adanya terang, pengap karena permasalah dunia, jika cahaya yang langgeng tidak di cari, bagaimana mau ni’mat? Baathin kekal dalam kegelapan, sudah tidak ada tempat untuk bertanya, sudah bukan tempat mencari ilmu, bukan lagi di tempat ibadah, Baathin hanya untuk menerima siksaan atau menerima Rahmat dan Ridho-Nya.


Semua ciptaan-Nya tidak terlepas dari satu cahaya
Perjalanan Alam semesta ini adalah perjalanan
Allah-Muhammad-Adam. 

 



BENDA RASULULLAH CAHAYA EMPAT disebutnya HAKIKAT ADAM, barang ghoib yang disebut ISMUDZAT, bibit alam dhohir atau Asma Yang Maha Suci.

Cahaya yang empat tadi menjadi lafadz ; 
ALIF - LAM - LAM - HA [ALLAH] tidak salah lagi, tadinya juga Asma Allah menjadi hakikat ;
MIM AWAL - HA - MIM AKHIR - DAL [MUHAMMAD]
 
DZAT dan SIFAT adalah pasti, tidak akan ada SIFAT, jika tidak ada DZAT, begitupun sebaliknya.

Syahadatnya DZAT dan SIFAT disebut Syahadat Sejati

ASHHADU ALLA ILAHA  ILLALLAH 
WA ASHHADU ANNA MUHAMMADUR RASULULLAH  

Hakikat : LA ILAHA ILLALLAH
Syariat : MUHAMMADUR RASULULLAH

Bertemunya ASHHADU = Allah dan 
WA ASHHADU = Diri Manusia [Ghoib]
menjadi ; 
WUJUD SHALAT, RUPA AMAL
"Sukma Suci Raga Sejati" = RUH SUCI









JAUHAR AWWAL RASULULLAH  
menjadi hakikat :
TASJID [Syahadat : PERKATAAN, ITIQOD, PRILAKU]
Suatu bukti bahwa kebenaran Al-Qur’an adalah Shalat dan yang pertama kali diciptakan Allah adalah Nur Shalat.
AF’AL Allah adalah bukti adanya hidup dan kehidupan dunia, ada ciptaan-Nya. Alam Semesta = Dalil, bibitnya dari cahaya yang empat rupa, ke-lima adalah cahaya pasti yaitu;
RUH ILMU RASULULLAH [Jauhar Awwal Rasulullah]


- CAHAYA MERAH = NARUN  
menjadi hakikat :
DZAT > ALIF = JABBARULLAH > MIM AWAL
MERAH – unsur API

NAFSU AMARAH berdomisili pada TELINGA.
Simbol hurufnya adalah ALIF, dalam pelaksanaan Shalat adalah berdiri ketika TAKBIRATUL IKHRAM.

- CAHAYA KUNING = HAWAUN
 

menjadi hakikat :
SIFAT > LAM AWAL = JABBAR QOHAR > HA
KUNING – unsur ANGIN. N [nitrogen]
NAFSU SUFIAH berdomisili pada MATA.
Simbol hurufnya LAM AWAL pada gerakan shalat adalah gerakan RUKU'.

- CAHAYA PUTIH = MAUN  

menjadi hakikat :
ASMA > LAM AKHIR = WAHIDUL QOHAR > MIM AKHIR
PUTIH – unsur AIR. H [hydrogen]
NAFSU LAWAMMAH berdomisili pada LIDAH.
Simbol hurufnya LAM AKHIR pada gerakan shalat adalah SUJUD.

- CAHAYA HITAM = TUROBUN
 

menjadi hakikat :
AF'AL > HA = WAHIDUL WAHID > DAL
HITAM – unsur BUMI. Zat arang atau carbon [C]
NAFSU MUTHMAINAH berdomisili pada HATI.
Simbol hurufnya HA pada gerakan shalat adalah sikap ATTAHIYAT.




MUHAMMAD AF'AL :

MIM AWAL lafadz Muhammad menjadi KEPALA Adam
HA lafadz Muhammad menjadi DADA Adam
MIM AKHIR lafadz Muhammad menjadi PUSAR Adam
DAL lafadz Muhammad menjadi KAKI Adam



HAKIKAT ADAM :

Saripati RUH BUMI menjadi KULIT BULU Adam
Saripati RUH API menjadi DARAH DAGING Adam
Saripati RUH AIR menjadi URAT TULANG Adam
Saripati RUH ANGIN menjadi OTOT SUMSUM Adam

AF'ALULLAH adalah geraknya diri, Asma Allah yang nyata di badan KULIT, DAGING, TULANG, SUMSUM, dari empat menjadikan “senjatanya”:

DZATULLAH adalah SIFAT PERKATAAN, perkataanlah yang menjadikan keramaian Alam Dunia, jika tidak ada kata, tidak akan ada kemauan manusia, tidak akan ada gedung-gedung, mobil dll.

SIFATULLAH adalah SIFAT PENGLIHATAN, yang memberi tahu kepada segala sifat, yang baik dan buruk, warna-warni, terang dan gelap, kumpul jadi satu, bergulung di dalam penglihatan.

ASMA'ULLAH adalah SIFAT PENDENGARAN, nyatanya adalah semua suara kumpul menjadi satu di telinga, semua perkataan, yang di keluarkan oleh lisan, semuanya adalah Asma, masuk kedalam telinga.

AF'ALULLAH adalah SIFAT PENCIUMAN/NAFAS, nafas yang keluar masuk melalui hidung, nafas yang memangku dan menguatkan wujud, nafas yang menjadi tiangnya hidup, adanya hidup wajib harus dimengerti, nafas yang keluar perginya kemana, jika keluar sampai dimana tempatnya, jika ke dalam di mana diamnya, tidak akan hilang tanpa sebab, tentu ada tempatnya yang pasti, Allah Maha Adil, menurut Ilmu Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma'rifat, itu adalah perjalanan manusia untuk pulang, pulang kepada asalnya, tempat Ruh waktu di Qadim, Qudratullahu.


SIFAT RASA [PENGUASA] dari PERKATAAN, PENGLIHATAN, PENDENGARAN, PENCIUMAN, termasuk RUH, NYAWA, BAATHIN, HATI, QOLBU, semuanya tidak akan hilang tanpa sebab, semua ada tempatnya yang pasti yaitu kembali kepada JAUHAR AWWAL RASULULLAH, inilah yang disebut RASA RASULULLAH atau RASA SEJATI


Hak Allah, Hak Muhammad, Hak Adam
Haknya Allah yaitu Awas
Haknya Muhammad yaitu Yang Mengawasi
Haknya Adam yaitu Yang Diawasi

Dzat Sifat Asma bersatu Allah Muhammad Adam [Akrobu] ada di wujud manusia, yang tiga bergulung jadi satu Hidup, Rasa dan Adegan

Yang tiga bergulung jadi satu, Awas, Yang Mengawasinya, Yang Diawasinya, jika Awas saja, tidak ada Yang Mengawasi pasti luput, begitu juga jika hanya dua yaitu Awas dan Yang Mengawasi, Yang Diawasinya tidak ada.

Hidup adalah kenyataan pasti, kenyataan akan adanya Allah, ada, mustahil tidak ada, Rasa sudah pasti kenyataannya yakin, ciri adanya yang di utus Nabi Muhammad Rasul, Penghulu Rasul semua, Adegan adalah kenyataan Adam Nabi, Khalifah Allah Ta’ala.


 “Pertama-pertama dijadikan Allah Ta'ala itu *CAHAYAKU [Muhammad], dan pada riwayat lain, *RUHKU.”[al-Raniri, 1961: 147]

"Aku [Muhammad] dari Allah dan Alam Semesta dariku; 
“Jikalau tiada engkau, ya  Muhammad, niscaya tiada Kujadikan segala Alam ini”  
[Al-Ghazali, 1934: 115] 

*Nûr Muhammad memegang peranan sentral dijadikannya Alam Semesta ini, sebelum adanya dalam bentuk seorang Nabi insani. Nûr tersebut Qadim lagi azali. *Nûr Muhammad inilah yang selalu berpindah dari generasi berikutnya dalam bentuk para anbiya: Nabi Adam Alaihissalam,  Nabi Nuh Alaihisalam,  Nabi Ibrahim Alaihissalam, Nabi Musa Alaihissalam dan lain-lain, kemudian dalam bentuk Nabi penutup, Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam. Nur tersebut berpindah kepada para awliya dan berakhir pada para wali penutup [khatam awliya] [Al-Ghazali, 1934: 115]

* Nur [RUH Ilmu Rasulullah] 


Berkata Wahab bin Munabbih, bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam telah bersabda :
Allah Ta'ala telah berfirman : "Sesungguhnya semua petala langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul Dzat-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh QALBU [hati] seorang Mukmin." [Hadits Riwayat Ahmad]

"Di antara manusia ada orang yang membantah tentang
 Allah [977] tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat" [Al-Hajj:8]

Selasa, 20 Agustus 2013

Hujjah Aswaja: Berbakti Pada Almarhum

Hujjah Aswaja: Berbakti Pada Almarhum: Masih Adakah kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua Yang Sudah Wafat? Berbakti kepada orang tua (Birul walidain) adalah sebuah perintah ...

Selasa, 23 April 2013

RasaDzaati: Hirup

RasaDzaati: Hirup: Naon atuh ari HIRUP ? Kasebutkeun yen hirup teh EUSI Kanyataan yen HIRUP EUSI sakabeh RUANG jeung WAKTU HIRUP ngeusi kana sakabeh KAHIRUPAN...

Senin, 14 Januari 2013

KETUHANAN: TUJUH LATIFAH SIMPUL BATHIN DAN 7 TITIK BATHIN YAN...

KETUHANAN: TUJUH LATIFAH SIMPUL BATHIN DAN 7 TITIK BATHIN YAN...: أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله TUJUH LATIFAH SIMPUL BATHIN DAN 7 TITIK BATHIN YANG KITA SEBUT DENGAN LATHIFAH ...

Minggu, 30 September 2012

muhasabah...


Bahan Renungan bagi Hati Nurani dan Tafakkur Diri
Posted in Mengaji Diri...Tentang Hati Nurani at 7:07 pm by kuswandani
Berikut ini saya kutip langsung sebuah nasihat agung dari sang Waliyullah, Ibnu Athaillah al-Iskandari, yang mengajak kita semua untuk merenungi dan mentafakkuri keindahan anugerah Allah bernama qalb atau hati bagi seorang Mukmin:
“Hati ibarat sebuah pohon, bila disiram dengan air ketaatan buahnya akan tampak jelas. Mata akan membuah kan penjagaan. Telinga akan membuahkan perhatian terhadap Alquran dan pengetahuan. Lidah akan membuahkan zikir dan ucapan yang baik. Kedua tangan dan kaki akan membuahkan amal-amal kebajikan, taat, serta sikap mau membantu orang. Sementara bila hati kering, buahnya akan rontok dan manfaatnya akan hilang.
Oleh karena itu, kalau hati sudah kering, perbanyaklah berzikir. Kunjungilah majelis orang-orang yang wara` dan bijak. Jangan seperti orang sakit yang berkata, “Saya tak mau berobat. Nanti juga akan sembuh sendiri. Pasti lama kelamaan sakitnya juga akan hilang.” Orang seperti ini harus dinasihati dengan mengatakan, “Engkau baru bisa sembuh kalau mau berobat. Tak ada jaminan penyakitnya akan hilang sebelum berusaha mencari sebab.”
Perjuangan memang tidak manis. Ia disertai oleh ujung-ujung panah dan pertumpahan darah. Berjuanglah melawan hawa nafsu agar ia mau taat. Itulah yang disebut dengan jihad terbesar.
Hati ibarat cermin, sedangkan hawa nafsu seperti asap atau uap. Setiap kali asap itu menempel di cermin, cermin itu pun akan menghitam sehingga kejernihan dan keindahannya akan pudar. Hati yang lemah tak ubahnya seperti cermin milik orang tua renta yang sudah tak punya perhatian untuk membersihkannya. Ia abaikan cermin itu dan tak pernah lagi ia pakai hingga wajahnya pun tak karuan.
Sebaliknya, hati yang mengenal Allah seperti cermin milik pengantin wanita yang cantik. Setiap hari ia bersihkan cermin tersebut dan ia pakai sehingga tetap bening dan mengkilat.
Rasulullah Saw bersabda, “Hati manusia lebih bergolak daripada kuali yang sedang mendidih di atas api.” Betapa banyak orang mukmin yang hatinya kadang menyatu dengan Allah tetapi sebentar kemudian berpisah. Betapa banyak ahli ibadah yang menghabiskan malamnya dalam taat kepada Allah, tetapi ketika matahari menyingsing ia tak ingat lagi pada-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw berdoa, “Yaa Muqalliba al-quluub wa al-abshaar, tsabbit qalbii ‘alaa diinika wa thaa`atika.” Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu dan ketaatan kepada-Mu.

Hati sama seperti mata. Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat. Tetapi lensanya saja. Demikian pula dengan hati. Yang dimaksud adalah bukan dagingnya. Tetapi unsur halus yang Allah hunjamkan dalamnya. Unsur itulah yang bisa memahami. Sengaja Allah tempatkan hati bergantung di sisi bagian kiri seperti ember. Kalau dibebani oleh syahwat, ia akan bergerak dan kalau dibebani oleh lintasan takwa ia juga akan bergerak. Kadangkala lintasan hawa nafsu atau syahwat yang lebih dominan. Pada saat tertentu lintasan hawa nafsu dikalahkan oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu. Tetapi, pada saat yang lain, lintasan takwa dikalahkan lintasan hawa nafsu sehingga hati pun mencelamu. Kedudukan hati seperti atap rumah. Bila engkau menyalakan api di dalam rumah, asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam.
Begitulah api syahwat, kalau sedang berkobar di dalam tubuh, asap-asap dosanya akan naik ke hati dan membuat hati tersbut hitam. Sehingga ia menjadi hijab yang membungkus permukaannya. Jika engkau hendak membersihkan dan membuatnya kembali bening, serta hendak mengangkat karat yang menempel padanya, engkau harus melakukan empat hal:
1) Banyak berzikir dan membaca Alquran,
2) Selalu diam dan sedikit bicara,
3) Menyendiri untuk munajat kepada Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui,
4) Sedikit makan dan sedikit minum.
Sebaliknya ada empat hal yang bisa mematikan hati:
1) Duduk bersama orang kaya,
2) Berbicara dengan wanita,
3) Jarang berzikir,
4) Banyak makan.
Bila ingin membersikah air, engkau harus menjauhkannya dari barang-barang kotor yang bisa membuatnya najis. Sementara itu anggota badan manusia ibarat saluran air yang mengalir menuju hati dan menumpahkan airnya di sana.
Oleh karena itu, janganlah engkau menyiram hatimu dengan perbuatan hina seperti ghibah, atau membincangkan orang lain, mengadu domba, berkata kotor, mendengar yang terlarang, melihat kepada yang tidak halal, memakan yang haram, dan sejenisnya. Hati tidak dikotori oleh yang keluar darinya. Tetapi, ia dikotori oleh yang masuk ke dalamnya.
Hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca Alquran disertai tadabbur, duduk bersama para ulama dan orang-orang mukmin, menjaga diri dari melihat sesuatu yang mubah, memelihara diri dari yang terlarang dan makruh, serta cemas terhadap segala maksiat.
Peliharalah cahaya hatimu wahai saudaraku. Janganlah engkau membuka tatapan mata kecuali untuk menambah pengetahuan atau hikmah. Siapa yang ingin melihat kepada berbagai hati, hendaknya ia melihat berbagai jenis rumah di daerahnya. Ada rumah yang sudah rusak dan menjadi tempat kotoran sampah. Ada rumah yang rusak dan menjadi tempat ular dan macan. Ada rumah yang tak bercahaya, gelap gulita. Ada rumah yang menjadi tempat berkicaunya burung gagak dan burung hantu. Dan ada pula rumah yang ramai oleh penghuninya, menyebarkan wewangian dan bunga-bunga, serta disinari oleh kilauan bintang gemintang.
Lalu perhatikan hatimu, termasuk yang manakah ia sehingga engkau benar-benar mengetahui. Bila ketika shalat, membaca Alquran, berzikir, dan berkhalwat, hatimu tidak hadir, tangisilah dirimu! Taburilah kepalamu dengan tanah, serta berdoalah agar Allah memberi hati yang khusyu’. Ketahuilah bahwa orang yang hatinya sedang sakit, karena maksiat dan nifak, ia takkan bisa memakai baju ketakwaan. Bila hatimu terbebas dari segala penyakit hawa nafsu dan syahwat, berarti engkau telah memperoleh takwa.
Dalam Alquran, Allah menyebut syahwat sebagi penyakit. Dia berfirman,
“….. maka orang yang di dalam hatinya ada penyakit pastilah menginginkan…” (QS 33: 32 )
Di lain tempat, Allah juga menyebut sifat nifak sebagai penyakit,
“Di dalam hati mereka terdapat penyakit, Allah pun menambah penyakit tersebut…” ( QS 2: 10 )
Untuk mengobati hati yang sakit ada dua cara. Pertama, dengan mempergunakan sesuatu yang bermanfaat, yaitu ketaatan. Kedua, dengan menghindari sesuatu yang berbahaya, yaitu maksiat. Tak ubahnya seperti orang yang sedang sakit. Ia akan meminum obat dan menghindarkan makanan tertentu sampai betul-betul sehat. Bila engkau melakukan sebuah dosa, lalu kau ikuti ia dengan tobat dan penyesalan, itu bisa menjadi sebab bagi tersambungnya hubunganmu dengan Allah. Namun, bila engkau melakukan ketaatan seperti ibadah haji, lalu kau ikuti ia dengan rasa ujub, bangga dan sombong, itu bisa menjadi sebab terputusnya hubunganmu dengan Allah.
Sungguh aneh, bagaimana engkau berdoa kepada Allah agar diberi kalbu yang baik, sementara anggota badanmu melakukan dosa dan perbuatan terlarang. Jika demikian, engkau seperti orang yang sedang meminum racun atau orang yang menelan obat, tetapi ular dibiarkan menyengatnya.
Siapa yang menyibukkan hatinya dengan Allah, kemudian ia melindunginya dari rongrongan hawa nafsu dan syahwat, itu lebih baik dari orang yang banyak melakukan shalat dan puasa, sedang hatinya sakit.
Allah berfiman,
”Adapun orang-orang uang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka bertambah kufur di samping kekufuran mereka (sebelumnya)” ( QS 9 : 125 )
Orang yang hatinya sibuk dengan dunia dan diisi kecintaan padanya sama seperti orang yang membangun rumah bagus dengan kamar kecil di atas yang airnya menetes ke bawah. Demikian kondisi itu terus berlangsung sehingga bangunan rumah itu dilumuri oleh kotoran. Begitulah kondisimu di hadapan Allah. Hatimu berlumur maksiat. Engkau memakan makanan haram, melihat yang haram, dan menyembunyikan keburukan, tetapi anehnya engkau masih merasa sebagai hamba yang shalih.
Siapa yang melakukan perbuatan haram dan mengerjakan maksiat, hatinya menjadi gelap dan mata batinnya menjadi redup. Oleh karena itu, segeralah menyucikan dan membersihkan hatimu dengan bertobat, berzikir, menyesal, dan memohon ampunan. Bila engkau belum bertobat di saat sehat, bisa jadi Allah akan mengujimu dengan penyakit dan musibah agar engkau bisa keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti pakaian yang dicuci dengan air.
Bertobatlah dan beristighfarlah selalu agar hatimu sibuk dengan zikir hingga engkau dilumuri cahaya. Jangan sekali-kali berbuat seperti penggali sumur yang mencari air. Ia menggali di sini dengan dalam sehasta, kemudaian menggali di tempat lain dengan dalam sehasta pula. Dengan begitu, ia takkan dapat menemukan air. Mestinya ia menggali di satu titik saja dengan sungguh-sungguh hingga air ditemukan. Ketahuilah bahwa hati ini menjadi rusak karena kurangnya rasa takut dan tiadanya rasa khusyu’ terhadap Allah.
Hati yang hidup adalah hati yang tak pernah terlalaikan dari Allah, entah oleh sesuatu yang buruk maupun yang baik. Bila ingin mengobati hatimu dari keburukan dan kelalaian, jauhilah sesuatu yang syubhat, keluarlah menuju padang tobat, pakailah baju penyesalan, angkat panji kehinaan, tinggalkan tempat tidur, ubahlah kondisimu dari jauh kepada Allah dengan mendekati-Nya dan dari permainan dengan kesungguhan, berilah makan fakir miskin, biasakan hatimu untuk mengasihi dan mencinta, perbanyak menangis, dan teruslah berdoa karena harap dan cemas, dengan begitu mudah-mudahan engkau sembuh.
Namun sayangnya, engkau lebih memperhatikan makan, mencari yang ternikmat, mengisi perut dengannya, serta berbangga dengan yang indah dan gemuk. Engkau tak ubahnya seperti domba yang sengaja dibuat gemuk untuk disembelih dan dimakan. Bukankah engkau pun telah menyembelih diri sendiri secara tak sadar?
Cahaya adalah tunggangan hati. Ia merupakan tentaranya sebagaimana kegelapan merupakan tentara hawa nafsu. Bila Allah ingin menoling hamba-Nya dalam melawan syahwat, Dia akan menyokongnya dengan tentara cahaya sekaligus melenyapkan kegelapan darinya.
Cahaya bertugas menyingkap, bashiirah (mata hati) memutuskan, serta hati mendatangi atau menolak. Adapun manusia, aspek lahiriyahnya berkilau, namun aspek batinnya yang sebenarnya menjadi substansi perhatian. Hawa nafsu hanya melihat pada aspek lahiriyah, sementara hati melihat pada substansi batiniahnya.
Wahai hamba Allah, agama merupakan modal hidupmu di dunia. Bila engkau kehilangan modal tersebut, sibukkan lisanmu dengan menyebut asma-Nya, sibukkan hatimu dengan mencintai-Nya, dan anggota badanmu dengan mengabdikan diri pada-Nya. Selain itu, bersikaplah rendah hati, temui para ulama yang mengamalkan ilmunya, sampai benih datang, turun hujan, dan ia pun tumbuh.
Siapa yang memperlakukan hatinya seperti petani memperlakukan tanahnya, hatinya akan bersinar dengan cahaya iman dan hikmah.
………………
Gusti, makin terpuruk hamba,
makin malu hamba, sekiranya diri tidak lagi mampu merenungi jutaan hikmah agung ini…

Minggu, 08 April 2012

Dalil-dalil Wajibnya Memanjangkan Jenggot dan Memotong Kumis

 

 


















Segala puji bagi Allah saja, shalawat dan salam tetap tercurah pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya dan juga selain mereka :
Dari Nafi’ dan Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, yaitu banyakkanlah jenggotmu dan pangkaslah kumismu.”
Diriwayatkan juga oleh keduanya dari Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma : “Pangkaslah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian tumbuh.” Dalam suatu riwayat lain : “Cukurlah kumis kalian dan biarkan tumbuh jenggot kalian.”
﴿ ﺍﻟﻠøöﺤóﻰ ﴾ adalah nama rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu.
Berkata Ibnu Hajar :
﴿ ﻭﻓﺮﻭﺍ ﴾ dengan tasydid di fak-nya : ﴿ ﻭóﻓøöﺮõﻭúﺍ ﴾
Berasal dari ﴿ ﺍﻟﺘøﻮúﻓöﻴúﺮõ ﴾ : Yaitu membiarkan, maksudnya biarkanlah banyak.
Dan ﴿ ﺇöﻋúﻔóﺎﺀõ ﺍﻟﻠøöﺤóﻰ ﴾ : Yaitu biarkanlah sebagaimana adanya.
Adapun perintah untuk menyelisihi orang-orang musyrik sebagaimana dijelaskan oleh hadits dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu :
Sesungguhnya orang musyrik itu, mereka membiarkan kumis mereka tumbuh dan mencukur jenggot mereka. Maka bedakanlah dengan mereka yaitu biarkanlah jenggot kalian tumbuh dan cukurlah kumis kalian.” (Diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang hasan)
Dari Abu Hurairah juga diriwayatkan oleh Muslim :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bedakanlah kalian dengan orang-orang Majusi, karena sesungguhnya mereka (orang-orang Majusi) memendekkan jenggot dan memanjangkan kumisnya.
Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, dia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyebutkan tentang orang-orang Majusi. Beliau bersabda : “Sesungguhnya mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot maka bedakanlah kalian dengan mereka.” Lalu beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) menampakkan pemotongan kumisnya kepadaku (Ibnu Umar).
Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Termasuk fitrah Islam, memotong kumis dan membiarkan jenggot tumbuh. Sesungguhnya orang-orang Majusi membiarkan kumisnya dan mencukur jenggotnya. Maka bedakanlah dengan mereka, yaitu pangkaslah kumis kalian dan biarkanlah tumbuh jenggot kalian.
Di dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sesungguhnya beliau bersabda :
Kami diperintah untuk memangkas kumis dan membiarkan tumbuh jenggot.”
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Potonglah kumis kalian dan panjangkanlah/biarkanlah jenggot kalian.”
Makna ﴿ ﺟóﺰøõﻭúﺍ ﴾ dan ﴿ ﻗóﺼøõﻮúﺍ ﴾ adalah potonglah.
Dan makna ﴿ ﺃóﺭúﺧõﻮﺍ ﴾ dan ﴿ ﻃóÜﻴøﻠõﻮúﺍ ﴾ adalah panjangkanlah atau diartikan juga, biarkanlah.
Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan lafadh ﴿ pangkaslah = ﻗóﺼøõﻮúﺍ ﴾, maka :
Tidak meniadakan ﴿ mencukur = ﺍúﻹöﺣúﻔóﺎﺀõ ﴾.
Karena sesungguhnya riwayat ﴿ ﺍúﻹöﺣúﻔóﺎﺀõ ﴾ ada di dalam Bukhari-Muslim dan sama maksudnya.
Dalam suatu riwayat : “Biarkanlah/banyakkanlah jenggot kalian.”
Maksudnya : “Biarkanlah jenggot kalian penuh.”
Hukum Memotong, Mencabut, Atau Mencukur Jengot
-Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Diharamkan mencukur jenggot.”
-Berkata Al Qurthubi rahimahullah : “Tidak boleh memotong, mencabut, dan mencukurnya.”
-Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan bahwa menurut ijma’, menggunting kumis dan membiarkan jenggot tumbuh adalah fardlu dengan dalil hadits Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu :
Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot kalian tumbuh.”
-Dan dengan hadits Zaid bin Arqam secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) :
Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” (Dishahihkan oleh At Tirmidzi)
-Dengan dalil yang lain, Tirmidzi berkata di dalam Al Furu’ : “Bentuk kalimat ini menurut shahabat kami (yang sepakat dengan Tirmidzi) menunjukkan keharaman.” Dan berkata pula dalam Al Iqna’ : “Haram mencukur jenggot.”
-Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Barangsiapa membikin seperti rambut maka tidak ada baginya di sisi Allah bagian.”
Berkata Zamakhsyari : “Maknanya membikin rambut seperti yang asli (rambut palsu, ed.), yaitu dengan mencabutnya atau mencukurnya dari kedua pipi atau merubahnya dengan menghitamkan.”
Berkata pula Zamakhsyari dalam An Nihayah : Yaitu mencukurnya dari kedua pipi dan dikatakan mencabutnya atau merubahnya dengan hitam.
Larangan Dan Bahaya Menyerupai Orang Kafir
Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu, dia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Biarkanlah jenggot kalian tumbuh dan cukurlah kumis kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashara.”
-Al Bazzar telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma secara marfu’ : “Janganlah kalian menyerupai orang-orang Ajam, biarkanlah tumbuh jenggot kalian.
-Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu dia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”
-Dan riwayat Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bukanlah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashara.”
-Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Maka bedakanlah diri dengan mereka (yahudi dan nashara)! Adalah perintah yang dikehendaki oleh pembuat syariat (Allah).
Penyerupaan pada dhahir akan berpengaruh/menimbulkan kasih, cinta, dan kesetiaan dalam batin sebagaimana kecintaan dalam batin akan berpengaruh/menimbulkan penyerupaan dalam dhahir dan ini adalah masalah yang nyata, baik secara perasaan atau dalam praktik nyata.
Penyerupaan dengan mereka pada perkara yang tidak disyariatkan bisa jadi sampai pada pengharaman atau termasuk dosa dari dosa-dosa besar (Al Kabair) dan terjadinya kekafiran sesuai dengan dalil syar’iyyah.
Sungguh Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ telah menunjukkan perintah untuk menyelisihi orang-orang kafir dan melarang menyerupai mereka secara keseluruhan.
Suatu perkara yang diduga sebagai tempat terjadinya kerusakan yang terselubung (dimana hal tersebut) tidak ditegaskan (oleh syar’i) berarti ketetapan hukumnya dikaitkan pada perkara di atas dan dalil tentang pengharamannya telah mengena (tidak terlepas) dari masalah tersebut. Maka menyerupai mereka dalam bentuk dhahir merupakan penyebab penyerupaan dalam akhlak, perbuatan-perbuatan yang tercela, bahkan sampai pada i’tiqad (keyakinan). Sedang pengaruh dari yang demikian itu tidak ditegaskan (oleh syar’i). Dan kerusakan itu sendiri –yang dihasilkan dari sikap penyerupaan– terkadang hal tersebut tidak nampak dan terkadang sulit (untuk dihindari) atau tidak mudah untuk dihilangkan. Maka segala sesuatu yang menyebabkan pada kerusakan (fasaad), pembuat syariat (Allah ‘Azza wa Jalla) mengharamkannya.
Dan diriwayatkan oleh Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu :
Barangsiapa yang menyerupai mereka sampai meninggal (mati) dia akan dibangkitkan bersama mereka.”
Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bukanlah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashrani. Sesungguhnya cara salamnya orang-orang yahudi dengan isyarat jari-jemari dan cara salamnya orang-orang nashrani dengan telapak tangan.”
Ada tambahan dari sisi Thabrani :
Janganlah kalian mencukur jambul (rambut yang tumbuh di kepala bagian depan), pangkaslah kumis kalian, dan biarkanlah jenggot kalian tumbuh.”
Umar radliyallahu ‘anhu memberi syarat (tanda) atas orang-orang kafir dzimmah supaya mencukur rambut yang tumbuh di kepala bagian depan untuk membedakan mereka dengan orang-orang Muslim. Maka barangsiapa mengerjakan yang demikian itu, sungguh telah menyerupai mereka.
Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan :
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang dari Al Qazu’, yaitu mencukur rambut di kepala sebagian dan meninggalkannya sebagian.”
Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu :
Tentang (mencukur rambut) kepala, cukurlah keseluruhan atau tinggalkanlah.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)
Mencukur rambut pada bagian belakang dari kepala (tengkuk) tidak boleh bagi orang yang tidak mencukur rambutnya keseluruhan dan tidak ada suatu kepentingan dengan mencukurnya itu. Karena yang demikian itu termasuk perbuatan orang-orang majusi. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.
Telah meriwayatkan Ibnu ‘Assakir dari Umar radliyallahu ‘anhu :
Mencukur rambut pada bagian belakang kepala (tengkuk) bukan karena berbekam adalah perbuatan majusi.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencegah untuk mengikuti hawa nafsu mereka. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dhalim.” (QS. Al Baqarah : 145)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Mengikuti mereka pada perkara yang mereka khususkan dari agama mereka. Dan mengikuti agama mereka berarti mengikuti hawa nasfu mereka.”
-Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan bahwasanya salah seorang dari majusi datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dia sungguh telah mencukur jenggotnya dan memanjangkan kumisnya. Maka bertanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada orang tersebut, apa yang menyebabkan berbuat demikian, dia menjawab : “Ini agama kami.” Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (adalah jenggot beliau penuh dari sini sampai sini dan menunjuk tangannya pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) : “Akan tetapi pada agama kami, yaitu memangkas kumis dan membiarkan jenggot tumbuh.”
-Harits bin Abi Usamah telah mengeluarkan dari Yahya bin Katsir, dia berkata : Telah datang seorang laki-laki ‘ajam ke masjid dan sungguh dia telah memanjangkan kumisnya dan menggunting jenggotnya. Maka bersabda (bertanya) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada orang tersebut : “Apa yang membawa kamu (menyuruh kamu) atas ini?” Maka orang tersebut menjawab : “Sesungguhnya rab (raja) saya yang memerintah saya dengan ini.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan agar memanjangkan jenggot dan memangkas kumis saya.”
-Ibnu Jarir meriwayatkan dari Zaid bin Habib kisahnya dua utusan kisra (kaisar), berkata Zaid bin Habib : Telah masuk dua utusan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan sungguh keduanya telah mencukur jenggot dan memelihara kumisnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memandang dengan benci kepada keduanya dan bersabda : “Celakalah kalian berdua. Siapakah yang menyuruh kalian dengan ini.” Kedua orang tersebut menjawab : “Yang memerintahkan kami adalah rab kami (yaitu kaisar).” aka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Akan tetapi Rabbku memerintahkan untuk memelihara jenggotku dan memotong kumisku.”
Muslim meriwayatkan dari Jarir radliyallahu ‘anhu, ia berkata :
Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam banyak rambut jenggotnya.”
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Umar radliyallahu ‘anhu : “(Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) itu tebal jenggotnya.” Dan dalam suatu riwayat : “Banyak jenggotnya.” Dan dalam riwayat lain : “Lebat jenggotnya.”
Dari Anas radliyallahu ‘anhu : “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, jenggotnya penuh dari sini sampai sini –menunjuk dengan tangannya pada lebarnya–.”
Sebagian ahli ilmu membolehkan (memberikan keringanan) dalam masalah mengambil (memotong) jenggot yang lebih dari genggaman dengan dasar yang dilakukan oleh Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu . Namun kebanyakan ulama membencinya (mengambil yang lebih dari genggaman). Dan ini sudah jelas dengan (keterangan) yang terdahulu.
Berkata Imam Nawawi rahimahullah : “Yang terpilih yaitu membiarkan atas keadaannya, yakni tidak memendekkan sesuatu dari jenggot secara asal.”
Al Khatib telah mengeluarkan dari Abi Said radliyallahu ‘anhu bahwa : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Janganlah salah satu di antara kalian memotong dari panjang jenggotnya.”
Dalam kitab Ad Darul Mukhtar disebutkan : “Adapun memotong dari jenggot itu bukan menggenggam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Maghrib dan para banci dari kaum laki-laki, maka tidak seorang pun yang membolehkannya.”
Pada Diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Ada Suri Tauladan Yang Baik
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya). Dan janganlah kamu menjadi orang-orang (munafik) yang berkata : “Kami mendengarkan.” Padahal mereka tidak mendengarkan.” (QS. Al Anfal : 20-21)
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An Nur : 63)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam jahanam dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)
Allah ‘Azza wa Jalla memperindah para laki-laki dengan jenggot. Dan diriwayatkan termasuk tasbihnya para Malaikat :
“Maha Suci (Allah) yang telah menghiasi orang laki-laki dengan jenggot.”
Dikatakan di dalam At Tamhid :
Haram mencukur jenggot, tidaklah ada yang berbuat demikian (mencukur jenggot) kecuali banci dari (kalangan) laki-laki.”
Imam Nawawi rahimahullah dan yang lain berkata :
• Jenggot adalah perhiasan laki-laki dan merupakan kesempurnaan ciptaan.
• Dengan jenggot, Allah membedakan antara laki-laki dan perempuan dan termasuk tanda-tanda kesempurnaan, maka mencabut pada awal tumbuhnya adalah menyerupai anak laki-laki yang belum tumbuh jenggotnya dan merupakan kemungkaran yang besar.
• Demikian juga mencukur, menggunting, atau menghilangkan dengan obat penghilang rambut termasuk kemungkaran yang paling jelas dan kemaksiatan yang tampak nyata, menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta terjerumus kepada perkara yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarangnya.
Telah berkata dan bersaksi bahwa seorang laki-laki yang mencabut rambut di bawah bibirnya di sisi Umar bin Abdul Aziz maka beliau menolak persaksiannya. Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu dan Ibnu Abi Layla (seorang qadli di Madinah) menolak persaksian semua orang yang mencabut jenggotnya. Berkata Abu Syamah : “Sungguh telah terjadi pada suatu kaum yang mereka itu mencukur jenggotnya dan kejadian ini lebih parah dari apa-apa yang terdapat pada Majusi (yang mereka itu memendekkan jenggot dan memanjangkan kumisnya) disebabkan mereka mencukur jenggotnya.”
Ini pada jaman Abu Syamah rahimahullah, bagaimana seandainya jika beliau melihat masa sekarang (dimana) lebih banyak orang yang melakukannya.
Apa yang menimpa mereka? Dilaknati Allah-lah mereka. Maka bagaimana mereka berpaling?
Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan mereka mencontoh Rasul-Nya sementara mereka menyelisihinya dan mereka bermaksiat kepadanya. Mereka mencontoh orang-orang Majusi dan orang-orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan mereka agar taat kepada Rasul-Nya dan sungguh telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
Peliharalah jenggot.”
Sementara mereka bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan mereka bermaksud dengan sengaja mencukur jenggotnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk mencukur kumis, mereka memanjangkannya, mereka melakukan yang sebaliknya. Mereka bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara terang-terangan dengan melakukan apa yang tidak tepat pada tempatnya.
Dan yang Allah ‘Azza wa Jalla memperindah dengannya adalah paling mulia dan indahnya sesuatu dari manusia.
Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap pekerjaannya yang buruk itu baik (sama dengan orang yang tidak ditipu syaithan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Faathir : 8)
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari butanya hati, kotornya dosa-dosa, kehinaan dunia, dan siksa akhirat.
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar niscaya mereka pasti berpaling juga sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (QS. Al Anfal : 22-23)
Dan dalam hal ini cukuplah bagi orang yang mempunyai hati dan mendengarkan serta dia dalam keadaan menyaksikan.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi : 17)
(Dikutip dari terjemah tulisan Abdurrahman Ibn Muhammad ibn Qoshim Al ‘Ashimi, edisi Indonesia Biarkan Jenggot Anda Tumbuh, penerbit Cahaya Tauhid Press, Malang)
Dikutip dari salafy.or.id offline Penulis : Abdurrahman Ibn Muhammad ibn Qoshim Al ‘Ashimi Judul: Barkan Jenggot Anda Tumbuh


** Janganlah Mengolok-olok Sunnah

Mengolok-olok atau menjadikan Sunnah Nabi sebagai bahan tertawaan merupakan perbuatan dosa besar, bahkan bisa menyebabkan pelakunya kafir.
Istihza’ (mengolok-olok) Sunnah Nabi berarti mengolok-olok Islam. Ini adalah perbuatan besar namun dinilai oleh sebagian orang sebagai suatu hal yang biasa. Bahkan terkadang disebut lelucon yang menggelikan karena dianggap perbuatan tersebut adalah main-main dan tidak serius sehingga seolah-olah ketika melakukannya tidak menanggung dosa atau tanggung jawab apa pun. Padahal perbuatan itu dinilai oleh syariat sangat berbahaya dalam segala keadaannya.
Terjadi di zaman Nabi ketika beliau bersama kaum muslimin pergi menuju perang Tabuk maka dalam sebuah majlis seseorang berkata: “Kami tidak melihat ada yang lebih rakus, lebih dusta, dan penakut seperti para pembaca Qur’an kita itu (dia maksudkan para sahabat Nabi).” Maka seseorang menanggapinya: “Kamu dusta, bahkan kamu adalah munafik. Saya benar-benar akan sampaikan kepada Rasulullah.” Maka berita itu sampai kepada Rasulullah dan turunlah ayat Al Qur’an kepada beliau. Abdullah bin Umar mengatakan: “Saya melihat orang itu bergantung dengan tali unta Rasulullah dan kakinya tersandung-sandung batu sambil mengatakan: “Wahai Rasulullah kami hanya main-main.” Namun Rasulullah terus mengatakan: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya kalian memperolok-olok? Jangan kalian cari udzur, kalian telah kafir setelah iman kalian” (At Taubah: 65-66) [Hasan, HR Ibnu Abi Hatim dan Ath Thabari dan dihasankan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, 108]
Mengomentari masalah ini Asy Syaikh Sulaiman bin Abdillah mengatakan: “Para ulama telah bersepakat atas kafirnya orang yang melakukan sesuatu darinya, maka barangsiapa yang mengolok-olok Allah atau kitab-Nya, atau Rasul-Nya, atau agama-Nya, maka dia telah kafir walaupun main-main dan tidak memaksudkan mengolok-oloknya secara ijma’ (kesepakatan para ulama).” (Taisir Al ‘Azizil Hamid hal. 617)
Hal yang serupa ditegaskan oleh Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di katanya: “Barangsiapa yang mengolok-olok sesuatu dari kitab Allah atau Sunnah Rasul-Nya yang shahih atau melecehkannya atau merendahkannya maka dia telah kafir terhadap Allah Yang Maha Besar.” (Taisir Al Karimir Rahman, 343)
Bahkan Asy Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “Barangsiapa yang mengolok-olok salah satu dari Sunnah berarti ia mengolok-olok semuanya, karena yang terjadi pada orang tersebut (pada kisah di atas-red) bahwa mereka mengolok-olok Rasul dan para sahabatnya sehingga turunlah ayat ini. Kalau begitu mengolok-olok perkara ini saling terkait.” (Kitabut Tauhid, 39)
Lalu bagaimana kalau mengolok-olok ilmu dan orang yang berilmu apakah termasuk dalam hukum ini?
Asy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjelaskan masalah ini, katanya: “Yang benar dalam masalah ini adalah dirinci masalahnya. Kalau mengolok-olok ilmu syariat atau orang yang berilmu karena ilmunya maka yang demikian merupakan kemurtadan, tidak ada keraguan dalam masalah itu karena itu adalah perbuatan merendahkan dan meremehkan sesuatu yang Allah besarkan dan mengandung penghinaan dan pendustaan terhadapnya. Adapun mengolok-olok orang yang berilmu dari sisi lain seperti pakaian atau ambisinya terhadap dunia atau kebiasaannya yang tidak sesuai dengan kebiasaan manusia yang tidak ada hubungannya dengan syariat atau sebab yang serupa dengan itu maka yang semacam ini tidak sampai murtad karena perbuatannya ini tidak kembali kepada agama tapi kembali kepada perkara lain.” (footnote Asy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz terhadap Fathul Majid hal. 526)
Semestinya ketika melihat sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan dan sesuai dengan Sunnah Nabi jangan sampai kita mengolok-olok atau menghina, merendahkan, mengejek atau menjadikannya bahan tertawaan atau semacamnya. Walaupun Sunnah itu bertentangan dengan adat istiadat atau kita menganggapnya asing dan aneh serta belum bisa melakukannya. Mestinya kita mendukung dan meminta ampun kepada Allah karena belum bisa melaksanakannya, bukan malah mengejek.
Semoga Allah selalu memberikan taufik-Nya kepada kita untuk selalu melakukan apa yang Ia ridhai dan cintai.
Ukuran Hidayah
Karena begitu bahayanya mencela Sunnah Nabi maka para ulama menjadikan ukuran hidayah dengan istiqamahnya seseorang di atas As Sunnah. Sebaliknya mereka menilai seseorang yang mencela Sunnah Nabi berarti perlu diragukan keistiqamahannya di atas hidayah.
Al Imam Al Barbahari mengatakan: “Jika kamu dengar seseorang mencacat As Sunnah atau menolak As Sunnah atau mencari selain As Sunnah, maka tuduhlah dia pada keislamannya dan jangan kamu ragu bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu, ahli bid’ah.” (Syarhus Sunnah, 51, Ta’dhimus Sunah, 29)
Abul Qasim Al Ashbahani mengatakan: “Ahlus Sunnah dari kalangan Salaf mengatakan bahwa jika seseorang mencacat As Sunnah maka semestinya ia dituduh pada keislamannya.” (Al Hujjah fii Bayanil Mahajjah, 2/428, Ta’dhimus Sunnah hal. 29).
Ayyub As Sikhtiyani berkata: “Jika kamu ajak bicara seseorang dengan Sunnah lalu dia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari yang ini dan beri tahu kami dengan Al Qur’an’, maka ketahuilah bahwa dia itu sesat.” (Miftahul Jannah, 137)
Orang yang melakukan perbuatan semacam ini berada dalam keadaan yang sangat berbahaya sehingga Imam Ahmad mengatakan: “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi maka dia berada di atas jurang kebinasaan.” (Tabaqat Al Hanabilah, 2/15, Ta’dhimus Sunnah, 29). Wallahu a’lam.
Dikutip dari ttp://www.asysyariah.com, Penulis : Al Ustadz Qomar Suaidi, Lc, Judul asli: Hukum mengolok-olok sunnah Nabi